RSS

Analisis Real BAB I

BAB I
HIMPUNAN DAN FUNGSI


    1. HIMPUNAN
Jika A adalah suatu himpunan, dan x adalah suatu anggota A, maka kita menuliskannya dengan :
x A
Jika x bukan anggota A, maka kita menuliskannya dengan :
xA
Jika semua anggota himpunan A merupakan anggota himpunan B, maka himpunan A adalah himpnan bagian dari B, ditulis:
AB
1.1.1 Contoh
  1. Misalkan A = {1,3,4,5}, maka 4A dan 6A
  2. Misalkan A = {a,c,d} dan B = {a,b,c,d,e,f}, maka AB
Suatu himpunan dapat dinyatakan dengan dua cara, yaitu mendaftar semua anggota atau dengan menyebutkan sifat keanggotaannya. Jika himpunan A yang unsur-unsurnya x, mempunyai sifat P(x) maka himpunan itu dituliskan dengan:
A = {x | P(x)}
atau
A = {x S | P(x)}
Apabila himpunan tersebut merupakan himpunan bagian S.
Berikut disajikan beberapa notasi himpunan yang sering muncul.
  1. Himpunan bilangan asli dinyatakan dengan:
N = {1,2,3,4, ...}
  1. Himpunan bilangan bulat dinyatakan dengan:
Z = {..., -2,-1, 0, 1, 2,..}
  1. Himpunan bilangan rasional dinyatakan dengan:
Q = {| m,nZ dan n 0}
  1. Himpunan bilangan real dinyatakan dengan:
R = {x | x bilangan real}

1.1.2 Definisi
Dua himpunan A dan B dikatakan sama, jika keduanya memuat elemen yang sama.
Dengan demikian, untuk menunjukkan bahwa A = B, maka harus ditunjukkan bahwa AB dan BA
1.1.3 Definisi
a. Gabungan dua himpunan A dan B adalah:
AB = {x : xA atau xB}
b. Irisan dua himpunan A dan B adalah:
AB = {x : xA dan xB}
c. Selisih dua himpunan A dan B adalah:
AB = A|B = {x : xA dan xB}




  1. (ii) (iii)
Gambar 1.1
Pada gambar 1.1 diatas, daerah yang diarsir pada (i) menunjukkan AB, daerah yang diarsir pada (ii) menunjukkan AB, dan daerah yang diarsir pada (iii) menujukkan AB. Himpunan yang tidak memiliki anggota disebut himpunan kosong, disimbolkan dengan “Ø” atau “{}”. Dua himpunan A dan B dikatakan saling lepas apabila himpunan A dan himpunan B tidak memiliki anggota persekutuan, atau AB = Ø.
1.1.4 Teorema
Jika A, B,dan C adalah himpunan, maka:
(a). AB = BA
(b). AB = BA
(c). (AB)C = A(BC)
(d). (AB)C = A(BC)
(e). (AB)C = (AC)(BC)
(f). A – (BC) = (AB)(AC)
(g). A – (BC) = (AB)(AC)
Sifat (a) dan (b) merupakan sifat komutatif gabungan dan irisan dua himpunan, sifat (c) dan (d) merupakan sifat assosiatif gabungan dan irisan himpunan, sifat (e) merupakan sifat distributif gabungan terhadap irisan himpunan, sedangkan (f) dan (g) merupakan hukum De Morgan.
Selanjutnya akan dibahas bukti dari sifat diatas, dalam hal ini akan dibuktikan sifat bagian (d), (e) dan (f) sedangkan (a), (b), (c) dan (g) diserahkan kepada pembaca untuk membuktikan sendiri.
Bukti.
d. Untuk membuktikan bahwa (AB)C = A(BC), maka harus ditunjukkan bahwa (ABCA(BC) dan A(BC) (AB)C, dengan cara sebagai berikut.
Ambil sebarang x(AB)C, maka x(AB) dan xC. Karena x(AB) maka xA dan xB. Jadi xA dan juga xB dan C, atau dengan kata lain xA dan xBC. Ini berarti xA(BC). Dengan demikian (AB)CA(BC).
Sebaliknya ambil sebarang xA(BC), maka xA dan x(BC). Karena x(BC) maka xB dan xC. Jadi xA dan B serta xC, atau dengan kata lain xAB dan xC. Ini berarti x(AB)C. Dengan demikian A(BC)(AB)C.
Karena (AB)CA(BC) dan A(BC)(AB)C, maka dapat dikatakan (AB)C = A(BC).
e. Ambil sebarang x(AB)C, maka xA dan B atau xC. Ini berarti juga xA atau C dan xB atau C, atau dengan kata lain xAC dan xBC. Akibatnya x(AC)(BC). Dengan demikian diperoleh (AB)C (AC)(BC)
Sebaliknya, ambil sebarang x(AC)(BC), maka xAC dan xBC, atau dengan kata lain xA atau C dan xB atau C. Ini berarti bahwa x A dan B atau xC. Akibatnya x(AB)C. Dengan demikian diperoleh (AC)(BC) (AB)C.
Karena (AB)C (AC)(BC) dan juga (AC)(BC) (AB)C, maka dapat dikatakan (AB)C = (AC)(BC)
f. Ambil sebarang xA – (BC), maka xA dan xBC. Karena xBC, berarti xB dan xC. Dengan kata lain xA dan xB yang berarti xAB dan juga xA dan xC, yang berarti xAC. Dengan demikian diperoleh xAB dan xAC, atau x(AB)(AC). Jadi A – (BC) (AB)(AC)
Sebaliknya, ambil sebarang x(AB)(AC) , maka xAB dan xAC. Karena xAB, berarti xA dan xB serta xAC, berarti xA dan xC. Jelas bahwa xA serta xB dan xC atau dengan kata lain xA dan xBC. Dengan demikian diperoleh xA – (BC). Jadi (AB)(AC) A – (BC)
Karena A – (BC) (AB)(AC) dan juga (AB)(AC) A – (BC), maka dapat dikatakan (AB)C = (AC)(BC).
Berikut ini akan diberikan definisi tentang direct image dan invers image suatu fungsi.
1.1.5 Definisi
Misalkan f : A B adalah fungsi dengan domain D(f) = A dan range R(f) B.
  1. Jika E A, maka direct image E oleh f adalah f(E) B yang diberikan sebagai:
f(E):= { f(x) : x E }
  1. Jika H B, maka inverse image H oleh f adalah f -1 (H) A yang diberikan sebagai:
f -1(H):= { xA : f(x)E }
1.1.6 Contoh
Misalkan f (x) :=’ x 0, xR.
  1. Tentukan direct image f (E) dimana E:={xR: 1x2}
  2. Tentukan invers image f -1(G) dimana G:={f(x)R 1f(x)4}

Jawab
  1. Diketahui f (x) :=’ x 0, xR, sehingga jika 1x2, maka:
1 1 1
Dengan demikian f (E):={yR: y1}
  1. Diketahui f (x) :=’ x 0, xR, sehingga jika 1f(x)4, maka:
14 x21.
Karena x2 maka diperoleh x dan x ....(1)
Karena x21 maka -1x1 ... (2)
Dari (1) dan (2) diperoleh:
f -1(G):={xR: -1x atau x1}
Berikut ini diberikan definisi dari fungsi injektif, surjektif dan juga bikjektif.
1.1.7 Definisi
Misalkan f : A B adalah fungsi dari A ke B.
  1. Fungsi f adalah injektif (satu-satu) apabila untuk setiap x1x2 maka f(x1)f(x2)
2. Fungsi f adalah surjektif (onto) apabila f (A) = B sehingga R(f ) = B
  1. Fungsi f adalah bijektif apabila f adalah injektif dan sekaligus surjektif.
Untuk menunjukkan bahwa f injektif, maka harus dibuktikan bahwa:
x1,x2 A x1x2 f(x1)f(x2)

atau
x1,x2 A f(x1) = f(x2) x1 = x2
Untuk menunjukkan bahwa f surjektif, maka harus dibuktikan bahwa:
yB, xA f(x) = y

1.1.8 Contoh
  1. Misalkan A ={xR} dan didefinisikan f(x) = x2 + 2. Apakah f bijektif? Buktikan!
Jawab
f tidak bijektif, sebab f tidak injektif, sebab:
dengan memilih -1,1A tetapi f (-1) = (-1)2 +2 = 12 + 2 = f (1)
  1. Misalkan B = {xR: x0} dan didefinisikan f(x) = . Apakah f bijektif? Buktikan!
Jawab
f adalah bijektif.
  1. Ambil sembarang x1,x2 B, sehingga jika f (x1) = f (x2) maka
= 2x1x2 + x2 = 2x1x2 + x1 x2 = x1
Jadi x1,x2 B x1x2 f(x1)f(x2) , yang menunjukkan f adalah injektif.
  1. Ambil sembarang yRf . Pilih x =B, y2 sehingga
f(x) = f = = = y
Jadi yRf , xB f(x) = y, yang menunjukkan bahwa f surjektif.
Dari (i) dan (ii) menunjukan bahwa f adalah bijektif.

1.1.9 Definisi
Misalkan f : A B adalah fungsi bijektif dari A pada B, maka
g = {(b,a)B xA : (a,b)f }
adalah fungsi dari B pada A.
Fungsi g adalah invers dari fungsi f atau di tulis g = f -1.
1.1.10 Contoh
Misalkan A = {xR: x3} dan didefinisikan f(x) = . tentukan f -1!
Jawab
Diketahui f(x) = y =
y(x – 3) = 2x + 1
yx – 2x = 3y + 1
x (y – 2) = 3y + 1
x =
Jadi f -1(y) = dengan y2

1.1.11 Definisi
Jika f : AB dan g : BC dan jika R(f ) D(g) = B, maka komposisi fungsi g o f adalah fungsi A kepada C didefinisikan sebagai:
(g o f )(x) := g(f (x )), untuk semua xA
1.1.12 Teorema
Jika f : AB adalah bijektif dan g : BC adalah bijektif, maka g o f adalah pemetaan bijektif dari A pada C.
Bukti.
Ambil sebarang x1, x2A, sehingga g(f (x1)) = g(f (x2)). Karena g bijektif, maka f (x1) = f (x2). Karena f bijektif, maka diperoleh x1 = x2. Dengan demikian g o f adalah injektif.
Selanjutnya karena g bijektif, maka untuk setiap wC, terdapat yB sehingga g(y) = w. Demikian halnya karena f bijektif, maka jika yB, terdapat xA sehingga f (x) = y. Jadi g(f (x)) = w. Dengan demikian g o f adalah surjektif.
Karena g o f adalah injektif dan surjektif, maka g o f bijektif.
1.1.13 Teorema
Misalkan f : AB dan g: BC adalah fung si dan misalkan H adalah subset dari C. Maka (gof )-1(H) = f -1(g-1(H))
Bukti
Ambil sembarang x(gof )-1(H), maka (gof )(x)(H). Ini berarti bahwa f (x)g -1(H) sehingga xf -1 (g -1(H)). Dengan demikian diperoleh (gof )-1(H) f -1(g-1(H)) .
Selanjutnya ambil sembarang xf -1 (g -1(H)), maka f (x)g-1(H). Akibatnya g(f (x))H atau (gof )(x)H. Ini berarti bahwa x(gof )-1(H). Dengan demikian diperoleh f -1(g-1(H)) (gof )-1(H).
Karena (gof )-1(H) f -1(g-1(H)) dan f -1(g-1(H)) (gof )-1(H), maka terbukti (gof )-1(H) = f -1(g-1(H))
1.1.14 Soal Latihan
1. Jika A dan B adalah himpunan, maka AB jika dan hanya jika AB =A
2. Buktikan bahwa
  1. AB = BA
  2. (AB)C = A(BC)
  3. A – (BC) = (AB)(AC)
3. Untuk setiap nN, misalkan An = {(n+1)k : kN }.
a. Tentukan A1A2.
b. Tentukan himpunan {An : nN } dan {An : nN }
4. Misalkan f (x) = , x 2, xR.
a. Tentukan direct image dari f (E) dimana E = {x R : -1x1}
b. Tentukan invers image dari f -1(G) dimana G = {xR : -3x-1}
5. Misalkan A= {xR: x-1} dan didefinisikan f(x) = . Apakah f bijektif? Buktikan!
6. Tunjukkan bahwa jika f : A B dan E, F adalah subset dari A, maka:
a. f (EF) = f (E) f (F)
b. f (EF) f (E)f (F)
7. Tunjukkan bahwa jika f : A B dan G, H adalah subset dari B, maka:
a. f -1(GH) = f -1(G) f -1(H)
b. f -1 (GH) = f -1 (G)f (H)
8. Misalkan f adalah injektif.
a. Tunjukkan bahwa f -1o f (x) = x untuk semua xD(f ) dan juga f o f -1(y) = y untuk semua yR(f )
b. Jika f adalah suatu bijektif dari A pada B, tunjukkan bahwa f -1 adalah suatu bijektif dari B kepada A.
9. Misalkan f : A B dan g : B C adalah fungsi.
a. Tunjukkan bahwa jika gof injektif, maka f injektif.
b. Tunjukkan bahwa jika gof surjektif, maka g surjektif.
10. Misalkan f dan g adalah fungsi sedemikian sehingga (gof )(x) = x untuk semua xD(f ) dan (f og)(y) = y untuk semua yD(g ). Buktikan bahwa g = f -1.
1.2 Induksi Matematika
Induksi matematika ialah sebuah teknik pembuktian pernyataan yang berkaitan dengan objek diskrit (kompleksitas algoritma, teorema mengenai graf, identitas dan ketidaksamaan yang melibatkan bilangan bulat, dan sebagainya yang sangat penting).
Induksi matematika tidak dapat digunakan untuk menemukan rumus atau teorema tetapi hanya sekedar untuk melakukan pembuktian. Prinsip Induksi Matematika di tentukan dengan langkah-langkah berikut.
Untuk menyatakan pernyataan P(n), nN benar maka harus di tunjukkan bahwa:
  1. P(1) adalah benar.
  2. kN, jika P(k) benar, maka P(k + 1) adalah benar.
1.2.1 Contoh
  1. Tunjukkan bahwa 1 + 2 + 3 + ... + n = ( n + 1)
Jawab
Misalkan P(n) : 1 + 2 + 3 + ... + n
  1. Untuk n = 1, maka : 1 = .( 1 + 1) 1 = 1 adalah benar.
  2. Andaikan benar untuk P(k), yaitu
1 + 2 + 3 + ... + k = (k + 1), dengan kN
maka akan ditunjukkan benar untuk P(k + 1), yaitu
1 + 2 + 3 + ... + (k + 1) = (k + 1)(k + 2)
Perhatikan bahwa:
1 + 2 + 3 + ... + (k + 1) = 1 + 2 + 3 + ... + k + (k + 1)
= k (k + 1) + k + 1
= k2 + k + 1
= (k2 + k + 2)
=(k +1)(k + 2)
Jadi untuk kN, jika P(k) benar, maka untuk P(k + 1) juga benar.


  1. Buktikan bahwa n3 + 5n habis dibagi oleh 6.
Jawab
Misalkan P(n) = n3 + 5n
  1. Untuk n = 1, maka P(1) = 13 + 5.1 = 6 adalah habis di bagi 6
  2. Andaikan benar untuk kN, P(k) habis dibagi 6, maka terdapat mZ, sedemikian sehingga P(k) = k3 + 5k = 6m.
Akan ditunjukkan bahwa untuk kN, maka P(k + 1) habis dibagi 6.
Perhatikan bahwa:
P(k + 1) = (k + 1)3 + 5(k + 1)
= k3 + 3k2 + 3k + 1 + 5k + 6
= k3 + 5k + 3k2 + 3k + 6
= 6m + 3k(k + 1) + 6
= 6(m + 1) + 3k(k + 1)
Dengan menggunakan induksi matematika, pembaca dapat membuktikan bahwa untuk kN, maka k(k + 1) adalah bilangan genap, sehingga terdapat q Z, sedemikian sehingga k(k + 1) = 2q.
Jadi:
P(k + 1) = 6(m + 1) + 3. 2q
= 6(m + 1) + 6q
= 6(m + q + 1)
Karena m + q + 1 q Z, maka dapat dikatakan bahwa untuk kN, maka P(k + 1) habis dibagi 6.
Jadi dengan induksi matematika terbukti bahwa n3 + 5n habis dibagi 6
1.2.2 Latihan Soal
1. Buktikan bahwa ++ ... += untuk semua nN
2. Buktikan bahwa 13+ 23 + ... + n3 = untuk semua nN
3. Buktikan bahwa 12 – 22 + 32 + ... +(-1)n+1n2 = untuk semua nN
4. Buktikan bahwa 52n – 1 terbagi oleh 8, untuk semua nN
5. Buktikan bahwa n3 + (n + 1)3 + (n + 2)3 terbagi oleh 9, untuk semua nN


1.3 Himpunan Finit dan Infinit
1.3.1 Definisi
a. Himpunan kosong adalah himpunan yang mempunyai 0 elemen
b. Jika nN, himpunan S dikatakan memiliki elemen jika ada bijektif dari himpunan Nn := {1,2,3,..,n} pada S
c. Himpunan S adalah finit jika S = , atau S mempunyai n elemen, nN.
d. Himpunan S adalah infinit jika S tidak finit.


Karena invers fungsi bijektif adalah bijektif (latihan 1.1.14. 9(b)) maka mudah untuk melihat bahwa himpunan S memiliki n elemen jika dan hanya jika terdapat suatu bijektif dari himpunan S kepada himpunan {1,2,,3, ..., n}. Demikian juga halnya dengan komposisi dua fungsi bikektif adalah bijektif (teorema 1.1.12), maka dapat diketahui bahwa himpunan S memiliki n elemen jika dan hanya jika terdapat suatu bijektif dari S1 kepada S2 yang memiliki n elemen. Selanjutnya himpunan T1 adalah finit jika dan hanya jika terdapat suatu bijektif dari T1 kepada T2 yang juga finit.


1.3.2 Teorema
Jika S merupakan himpunan finit, maka banyak elemen S adalah tunggal pada N.


1.3.3 Teorema
Himpunan bilangan asli N adalah infinit.
Bukti.
Andaikan N finit, maka nN sehingga Nn onto N. Tetapi n +1 N dan n + 1 > n, yang mengakibatkan Nn tidak bijektif pada N. Jadi pengandaian salah, seharusnya N infinit.


1.3.4 Teorema
a. Jika A adalah himpunan dengan m elemen, B adalah himpunan dengan n elemen dan A B= , maka AB mempunyai m+n elemen.
b. Jika A adalah himpunan dengan mN elemen dan CA adalah himpunan dengan sebuah elemen, maka A|B adalah himpunan dengan m – 1 elemen.
c. Jika C adalah himpunan infinit dan B adalah himpunan finit, maka C|B adalah himpunan infinit.


1.3.5 Teorema
Misalkan S dan T adalah himpunan dan TS.
  1. Jika S finit, maka T finit
  2. Jika T infinit, maka S infinit
Bukti
a. Jika T =Ø maka menurut definisi 1.3.1 himpunan T adalah finit. Jadi sekarang akan dibuktikan untuk T Ø dan pembuktian dilakukan dengan menggunakan Induksi Matematika.
Jika S memiliki 1 elemen, maka himpunan tak kosong TS harus seperti S, sehingga T finit.
Misalkan T S1 dan S1 memiliki k elemen berakibat T finit adalah benar. Akan ditunjukkan bahwa jika S memiliki k + 1 elemen, maka T finit.
Sekarang misalkan S memiliki k + 1 elemen, maka terdapat suatu bijektif f dari Nk+1 pada S. Jika f (k + 1)T, maka berdasarkan teorema 1.3.4(b) dapat ditentukan S1 = S\{f (k + 1)}memiliki k elemen. Karena TS1 maka T finit. Selanjutnya jika f (k + 1)T, maka T1 = T \ {f (k + 1)}dan T1S1. Karena S1 memiliki k elemen, maka T1 adalah finit. Akibatnya T = T1{f (k + 1)} adalah finit.
Dengan demikian terbukti bahwa jika S finit maka T finit.
b. Pernyataan “Jika T infinit, maka S infinit” merupakan kontrapositif dari pernyataan “jika S finit maka T finit”. Jadi Jika T infinit, maka S infinit.
1.3.6 Contoh
  1. Jika himpunan A={nZ: 1n10} dan BA. Tentukan himpunan B yang mungkin! Apakah B finit atau infinit?
Jawab
Himpunan B yang mungkin adalah:
B1 = {1, 2, 5, 7}, B2 = {2,3,4,5,6,7,8,9,10}, dan sebagainya.
B1 dan B2 adalah finit
  1. Jika himpunan N={ 4n: nN} dan NM. Tentukan himpunan M yang mungkin! Apakah M finit atau infinit?
Jawab
Himpunan M yang mungkin adalah:
M1 ={n : nN}, M2 = {2n : nN}, dan sebagainya
M1 dan M2 adalah infinit.
Selanjutnya akan diberikan definisi tentang himpunan denumerabel, countable, dan uncountabel.
1.3.7 Definisi
a. Himpunan S adalah denumerabel (infinit countabel) jika ada bijektif N pada S.
b. Himpunan S adalah countabel jika S finit atau denumerabel.
c. Himpunan S adalah uncountabel jika S tidak countabel.
1.3.8 Teorema
Himpunan NxN adalah denumerabel.




1.3.9 Teorema
Misalkan S dan T adalah himpunan dan TS.
  1. Jika S countabel, maka T countabel
  2. Jika T uncountabel, maka S uncountabel.


1.3.10 Teorema
Pernyataan berikut ini adalah ekuivalen.
  1. Himpunan S adalah countabel
  2. Ada surjektif dari N kepada S
  3. Ada injektif dari S kepada N.


1.3.11 Teorema
Himpunan bilangan rasional Q adalah denumerabel


1.3.12 Contoh
1. Himpunan E = {2n : nN} adalah denumerabel karena pemetaan f : N E yang didefinisikan oleh f (n) = 2n, nN adalah suatu bijektif dari N kepada E.
2. Himpunan semua bilangan bulat Z adalah denumerabel.


1.3.13 Latihan Soal
1. Berikan masing-masing dua buah contoh dari teorema 1.3.8 dan teorema 1.3.9.
2. Buktikan teorema 1.3.8
3. Buktikan teorema 1.3.9.
4. Buktikan bahwa himpunan takkosong T1 adalah finit jika dan hanya jika terdapat suatu bijektif dari T1 kepada himpunan finit T2.
5. Buktikan bahwa jika S dan T denumerabel, maka ST denumerabel.

0 komentar:

Posting Komentar

Write here, about you and your blog.
 
Copyright 2009 Kaito 1412 All rights reserved.
Free Blogger Templates by DeluxeTemplates.net
Wordpress Theme by EZwpthemes
Blogger Templates