BAB
II
BILANGAN
REAL
2.1
Sifat Aljabar dan Urutan Bilangan Real
Dalam
bagian ini akan dipelajari sifat ajabar dan urutan bilangan real.
sebelum membahas tentang ini, terlebih dahulu diberikan definisi
mengenai operasi biner. Operasi biner pada himpunan F
adalah suatu fungsi B
dengan domain F
F
dengan range di F.
Jadi operasi biner mengasosiasikan setiap pasangan terurut (a,b)
dari elemen F
secara tunggal elemen B(a,b)
di F.
Akan tetapi kita biasa menggunakan a
+ b
dan a.b
daripada B(a,b).
2.1.1
Sifat Aljabar R
Pada
himpunan bilangan real, terdapat dua operasi biner yaitu “+” yang
disebut penjumlahan dan “.” yang disebut perkalian. Operasi biner
ini memenuhi sifat-sifat berikut.
(A1)
a
+ b
= b
+ a,
a,b
R (sifat komutatif penjumlahan)
(A2)
a
+ (b
+ c)
= (a
+ b)
+ c,
untuk semua
a,b,c
R (sifat assosiatif penjumlahan)
(A3)
Terdapat elemen 0 R, sedemikian sehingga a
+ 0 = a
dan 0 + a
= a,
untuk semua
a
R (eksistensi elemen 0)
(A4)
Untuk semua a
R, terdapat
-a
R, sedemikian sehingga a
+
(-a)
= 0 dan (-a)
+ a
= 0 (eksistensi invers penjumlahan)
(M1)
a
. b
= b
. a,
untuk semua
a,b
R (sifat komutatif perkalian)
(M2)
a
. (b
. c)
= (a
. b)
. c,
untuk semua
a,b,c
R (sifat assosiatif perkalian)
(M3)
Terdapat elemen 1 R, sedemikian sehingga a
.1 = a
dan 1.a
= a,
untuk semua
a
R (eksistensi elemen 1)
(M4)
Untuk semua
a
R a0,
terdapatR, sedemikian sehingga a.
= 1 dan .a
= 1 (eksistensi invers perkalian)
(D)
a.(b
+ c)
= (a.b)
+ (a.c)
dan (b
+ c).a
= (b.a)
+ (c.a),
a,b,c
R (sifat distributif perkalian atas penjumlahan)
Sifat
(A1),(A2),(A3) dan (A4) diatas menjelaskan sifat penjumlahan,
sedangkan sifat (M1),(M2),(M3) dan (M4) diatas menjelaskan sifat
perkalian.
2.1.2
Teorema
(a).
Jika z
dan a
adalah elemen R dengan z
+ a=
a,
maka z
= 0.
(b). Jika
u
dan b0
adalah elemen R dengan u.b
= b,
maka u
=
1
(c). Jika
aR
, maka a.0
= 0
Bukti
(a).
z
= z
+ 0 (A3)
=
z
+ (a
+ (-a))
(A4)
=
(z
+ a)
+ (-a)
(A2)
=
a
+ (-a)
(diketahui)
=
0 (A4)
(b).
u
= u
. 1 (M3)
=
u. (M4)
=
(u.b).
(M2)
=
b.
(Diketahui)
=
1 (M4)
- a + a.0 = a.1 + a.0 (M3)
=
a.(1+0)
(D)
=
a.1
(A3)
=
a
(M3)
Dari
teorema 2.1.2(a)
dapat disimpulkan a.0
= 0.
Selanjutnya
diberikan dua sifat penting dari operasi perkalian, yaitu sifat
ketunggalan elemen inversnya dan bahwa perkalian dua bilangan itu
adalah nol, apabila salah satu faktornya nol.
2.1.3
Teorema
(a).
Jika a,bR
sehingga jika a
+ b
= 0, maka a
= -b
(b).
Jika a,bR
dan a0,
sehingga jika a.b
= 1 maka b
=
(c).
Jika a.b
= 0, maka salah satu a
= 0 atau b
= 0
Bukti.
- a = a + 0 (A3)
=
a
+ (b
+
(-b))
(A4)
=
(a
+ b)
+ (-b)
(A2)
=
0 + (-b)
(Diketahui)
=
-b
(A3)
- b = 1.b (M3)
=
.b
(M4)
=
(a.b)
(M2)
=.1
(Diketahui)
=
(M3)
(b).
Diketahui a.b
= 0, akan dibuktikan a
= 0 dengan mengasumsikan b0
a =
a.1
(M3)
=
a
(M4)
=
(a.b)
(M2)
=
0. (Diketahui)
=
0 (Teorema 2.1.2(c))
Selanjutnya
akan dibuktikan b
= 0, dengan mengasumsikan a0.
b =
1.b
(M3)
=
b
(M4)
=
(a.b)
(M2)
=
.0 (Diketahui)
=
0 (Teorema 2.1.2(c))
2.1.4
Teorema
Misalkan
a,bR,
maka
(a). -(-a)
= a
(b). (-1)a
= -a
(c). (-1)(-1)
= 1
Operasi pengurangan (substraction)
didefinisikan dengan a
– b
= a
+ (-b)
untuk a,bR.
Demikian halnya dengan pembagian (division),
untuk a,bR
dengan b0
didefinisikan dengan = a..
Untuk selanjutnya, untuk a.b
cukup dituliskan dengan ab,
dan aa
dituliskan dengan a2,
(a2)a
dituliskan a3,
atau secara umum didefinisikan an
+1 =
(an)a,
untuk nN.
Lebih lanjut, a1
= a,
dan jika a0
maka a0
= 1, serta a-1
= , atau secara umum dituliskan a-n
= untuk nN.
2.1.4
Bilangan Rasional dan Bilangan Irrasional
Bilangan
rasional (Q) adalah elemen R yang dapat dituliskan dalam bentuk ,
dengan a,bZ.
Elemen R yang bukan elemen Q disebut bilangan irrasional. Sebagai
contoh bilangan 2; ;; 0,43 merupakan bilangan rasional. Sedangkan ;
0,23183.... merupakan bilangan irrasional.
Akan
ditunjukkan bahwa tidak terdapat bilangan rasional yang kuadratnya
adalah 2. Untuk membuktikannya, digunakan istilah genap dan ganjil.
Suatu bilangan asli disebut genap apabila dapat dinyatakan denga 2n,
untuk suatu nN.
Sedangkan suatu bilangan asli disebut ganjil apabila dapat
dinyatakan dengan 2n
– 1 , untuk suatu nN.
2.1.5
Teorema Tidak
ada
r
Q sedemikian
sehingga
r2
= 2
Bukti.
Andaikan
terdapat rQ
sedemikian sehingga r2
= 2. Karena rQ,
maka terdapat p,qZ
sehingga r
=dengan (p,q)
= 1, dan =2p2
= 2q2
yang berarti p2
genap.
Karena p2
genap, maka p
juga
genap, yang berarti terdapat kZ
sehingga p
= 2k.
Dengan demikian diperoleh (2k)2
= 2q2
4k2
= 2q22k2
=
q2,
yang berarti q2
genap sehingga q
juga genap. Karena p
dan q
keduanya genap, maka (p,q)1,
kontradiksi dengan (p,q)
= 1.
Dengan
demikian, pengandaian salah dan haruslah Tidak ada rQ
sedemikian sehingga r2
= 2
2.1.6
Sifat Urutan Bilangan Real
Ada
subset tak kosong PR yang disebut himpunan bilangan real positif yang
memenuhi sifat berikut.
- Jika a,bP , maka a + bP
- Jika a,bP , maka abP
- Jika aP, maka memenuhi tepat satu kondisi berikut
aP,
a
= 0, -aP
Sifat
(iii) biasanya disebut dengan sifat trikotomi, dan {-a:
aP}
disebut bilangan real negatif.
2.1.7. Definisi
Misalkan
a,bR,
maka :
(a).
Jika a
– bP,
maka ditulis a
> b
atau b
< a
(b).
Jika a
– bP{0},
maka ditulis ab
atau ba
Notasi
a
< b
<
c
berarti a
< b
dan b
< c.
Demikian juga untuk abc
berarti a
b
dan bc.
2.1.8
Teorema
Misalkan
a,b,c
adalah elemen di R.
(a).
Jika a
> b
dan b
> c,
maka a
> c
(b).
Jika a
> b,
maka a
+ c > b + c
(c).
Jika a
> b
dan c
> 0, maka ac
> bc
Jika
a
> b
dan c
< 0, maka ac
< bc
(d).
Jika a
> 0, maka >0
Jika
a
< 0, maka <0
Bukti.
(a). Diketahui
a
> b
dan b
> c,
maka a
– bP
dan b
– cP
sehingga (a
– b)
+ (b
– c)P.
Jadi a
– cP.
Menurut definisi 2.1.7(a) diperoleh a
> c
(b) Karena
a
> b,
maka a
– bP
Perhatikan
bahwa: (a
– b)
= (a
– b)
+ 0
=
(a
– b)
+ (c
– c)
=
(a
+ c)
+ (-b
– c)
=
(a
+ c)
– (b
+ c)
Dengan
demikian (a
+ c)
– (b
+ c)P,
sehingga menurut definisi 2.1.7(a) diperoleh (a
+ c)
> (b
+ c)
(c).
Jika a
> b
dan c
> 0, berarti a
– bP
dan cP.
Sehingga (a
– b)c
=
ac
– bcP
. Menurut definisi 2.1.7(a), diperoleh ac
> bc.
2.1.9
Teorema
(a)
Jika aR
dan a0,
maka a2
> 0
(b)
1 > 0
(c)
Jika n
N, maka n
> 0
Bukti.
(a). Menurut
sifat trikotomi, jika a0
maka aP
atau -aP.
Untuk aP
maka a2
= aaP
. Untuk -aP,
maka a2
= (-a)(-a)P.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Jika aR
dan a0,
maka a2
> 0.
(b). Karena
1 = 12,
maka menurut teorema 2.1.9(a) 1 > 0.
(c). Gunakan
induksi matematika untuk membuktikan bahwa jika n
N, maka n
> 0.
Untuk
n
= 1, jelas bahwa 1 P. adalah benar. Selanjutnya asumsikan benar untuk
n
= kP,
maka harus ditunjukkan benar untuk k
+ 1P.
Perhatikan
bahwa 1P serta dari asumsi bahwa kP,
maka diperoleh k
+1P. Dengan demikian jika n
N, maka n
> 0.
2.1.10
Teorema
Jika
a,bR
dan a
< b,
maka a
< (a
+b)
< b.
Bukti.
Diketahui
a
< b,
maka menurut teorema 2.1.8(b) a
+ a
< a
+
b
atau 2a
< a
+ b.
Karena > 0, maka dari teorema 2.1.8(c) .2a
< (a
+ b)
sehingga a
< (a
+ b).
Selanjutnya a
+ b
< b
+ b
atau a
+ b
< 2b.
Karena > 0, maka dari teorema 2.1.8(c) (a
+ b)
< .2b
sehingga (a
+ b)
< b.
Dengan demikian diperoleh a
< (a
+b)
< b.
2.1.11
Akibat
Jika
bR
dan 0 < b,
maka 0 < b
< b.
2.1.12
Teorema
Jika
aR
sedemikian sehingga 0 a
<, untuk setiap > 0, maka a
= 0.
Bukti.
Misalkan
dengan kontradiksi, yakni a
>
0. Maka menurut corollary 2.1.11 0 <a
< a.
Selanjutnya dengan mengambil = a,
maka 0 << a.
Padahal a
<. Terjadi kontradiksi, sehingga seharusnya a
=0.
2.1.13
Teorema
Jika
a,bR
dan ab
> 0, maka akan dipenuhi salah satu berikut:
(a). a
> 0 dan b
> 0; atau
(b). a
< 0 dan b
< 0.
Bukti.
Kita
catat bahwa ab
> 0 mengakibatkan a0
dan b0,
sebab jika a
= 0 atau b
= 0, mengakibatkan ab
= 0. Dari sifat trikotomi, diperoleh a
> 0 atau a
< 0.
(a)
Jika a
> 0, maka dari teorema 2.1.8 (d), > 0. Dengan demikian menurut
teorema 2.1.8(c) (ab)
> .0 atau b
> 0, sehingga b
> 0.
(b)
Jika a
< 0, maka dari teorema 2.1.8(d), < 0. Dengan demikian menurut
teorema 2.1.8(c) (ab)<
.0 atau b
< 0, sehingga b
< 0.
2.1.14
Akibat
Jika
a,bR
dan ab
< 0, maka akan dipenuhi salah satu berikut:
(a). a
> 0 dan b
< 0; atau
(b). a
< 0 dan b
> 0.
2.1.15
Contoh.
- Tentukan himpunan A dari bilangan real x sedemikian sehingga 3x+93
Jawab
Diketahui
xA
dan 3x
+ 93, maka:
3x
+ 933x
-6x
-2
Jadi A
= {xR:
x-2}
- Tentukan himpunan B dari bilangan real x sedemikian sehingga x2 – 5x + 6 < 0
Jawab
Diketahui
xB
dan x2
– 5x
+ 6 < 0, maka:
x2
– 5x
– 14 < 0
(x
– 7)(x
+ 2) < 0.
Menurut
akibat 2.1.14, maka terdapat dua kasus, yaitu:
- x – 7 > 0x > 7, dan x + 2 < 0x < -2
- x – 7 < 0x < 7, dan x + 2 > 0x > -2
Dari
kasus (i) diperoleh x
<
-2 dan x
> 7 sehingga tidak ada nilai x
yang memenuhi. Sedangkan dari kasus (ii) diperoleh x
< 7 dan x
>-2, sehingga nilai x
yang memenuhi -2 < x
<
7. Jadi B
= {
xR:
-2 < x
<
7}
c. Tentukan
himpunan C
dari bilangan real x
sedemikian sehingga
Jawab
Diketahui
xC
dan , maka:
Dengan demikian diperoleh (i) x
+ 1 x-1
dan x
– 20x
2,
yang berarti x2.
Tetapi x2,
akibatnya x
> 2. Selanjutnya (ii)
x
+ 10x
-1
dan x
– 20x
2,
yang berarti x-1.
Dengan demikian disimpulkan C
= {
xR:
x-1}{
xR:
x
>
2}
2.1.16
Ketaksamaan Bernouli
Jika
x
> -1, maka (1 + x)n
1 + nx,
untuk semua nN.
Bukti
Untuk
membuktikan Ketaksamaan Bernouli diatas, kita gunakan induksi
matematika. Untuk n
= 1, maka (1 + x)1
1 + 1.x
adalah benar. Selanjutnya andaikan benar untuk n
= k,
yaitu (1
+ x)k
1 + kx
maka akan dibuktikan benar untuk n
= k
+ 1.
Perhatikan
bahwa:
(1
+ x)k+1
=
(1+ x)k(1
+ x)
(1
+ kx)(1
+ x)
= 1 + x
+ kx
+ kx2
= 1 + (k
+ 1)x
+k x2
Karena
k
N dan x2
> 0, maka kx2
> 0. Akibatnya (1 + x)k+1
1 + (k
+ 1)x.
Jadi
terbukti bahwa jika
x
> -1, maka (1 + x)n
1 + nx,
untuk semua nN.
2.1.17
Soal Latihan
1. Misalkan
a,bR.
buktikan bahwa:
a. -(-a)
= a
b. (-1)a
= -a
c. (-1)(-1)
= 1
2. Buktikan
bahwa jika a,bR,
maka
a. -(a
+ b)
= (-a)
+ (-b)
b. (-a)(-b)
= ab
c.
=, jika a0
d.
=, jika b0
3. a.
Jika aR
dan a
> 0, buktikan bahwa a
> -a.
b. Jika aR
dan a
< 0, buktikan bahwa a
< -a
4. Buktikan
bahwa tidak ada bilangan rasional s
sedemikian sehingga s2
= 6.
5. Buktikan
bahwa jika x,y
bilangan rasional, maka x
+ y
dan xy
juga bilangan rasional.
6. Carilah
biangan real x
sedemikian sehingga:
a. 2x
+
4 < x
b. x2
– 8x
+ 15 0
c.
2.2
Nilai Mutlak dan Garis Bilangan Real
2.2.1.
Definisi
Nilai
mutlak(absolute
value)
dari suatu bilangan real a,
dinotasikan dengan |a|,
didefinisikan sebagai:
2.2.2.
Teorema
- |ab| = |a||b|, untuk semua a, b R
- |a|2 = a2 untuk semua a, b R
- Jika c 0, maka |a| c jika dan hanya jika –c ac
- –|a| a |a|
Bukti.
(a) Jika
salah satu a
atau b
adalah 0, maka kedua ruas adalah 0. Selanjutnya jika a0
dan b0,
maka dalam hal ini ada empat kasus, yaitu:
(i) Jika
a
> 0 dan b
> 0, maka menurut definisi 2.2.1 diperoleh |a|
= a
dan |b|
= b.
Selanjutnya karena a
> 0 dan b
> 0, maka ab
> 0. Jadi menurut definisi 2.2.1, |ab|
= ab.
Dengan demikian |ab|
= ab
= |a||b|.
(ii) Jika
a
> 0 dan b
< 0, maka menurut definisi 2.2.1 diperoleh
|a|
= a
dan |b|
= -b.
Selanjutnya karena a
> 0 dan b
< 0, maka ab
< 0. Jadi menurut definisi 2.2.1, |ab|
= -ab.
Dengan demikian |ab|
= -ab
= a(-b)
= |a||b|.
- Jika a < 0 dan b > 0, maka menurut definisi 2.2.1 diperoleh |a| = -a dan |b| = b. Selanjutnya karena a < 0 dan b > 0, maka ab < 0. Jadi menurut definisi 2.2.1, |ab| = -ab. Dengan demikian |ab| = -ab = |a||b|.
- Jika a < 0 dan b < 0, maka menurut definisi 2.2.1 diperoleh |a| = -a dan |b| = -b. Selanjutnya karena a < 0 dan b < 0, maka ab > 0. Jadi menurut definisi 2.2.1, |ab| = ab. Dengan demikian |ab| = ab = (-a)(-b) = |a||b|.
Dari
keempat kasus diatas, maka dapat kita simpulkan bahwa
|ab|
= |a||b|.
(b). Jika
a
= 0, jelas bahwa |0|2
= 0 = 02.
Jika a
> 0, maka menurut definisi 2.2.1, |a|
= a,
sehingga |a|2
= |a||a|
= aa
= a2.
Demikian halnya jika a
< 0, maka menurut definisi 2.2.1, |a|
= -a,
sehingga |a|2
= |a||a|
= (-a)(-a)
= a2.
Dengan demikian kita simpulkan bahwa |a|2
= a2.
(c). Akan
dibuktikan jika c
0, maka |a|
c
jika dan hanya jika –c
ac.
Langkah
pertama kita akan buktikan jika c
0, dan |a|
c
maka –c
ac.
Perhatikan
bahwa c0,
maka –c
0. Karena |a|
c,
berarti untuk a
= 0 diperoleh |a|
= 0 sehingga -c
a
c.
Jika a
> 0, maka |a|
= a
c.
Akibatnya -c
0
< a
c
atau -c
a
c.
Sedangkan jika a
< 0, maka |a|
= -a
c
Akibatnya -c
a
< 0 c
atau -c
a
c.
Langkah
selanjutnya, akan dibuktikan jika c
0 dan –c
a
c
maka |a|
c.
Perhatikan
bahwa
c
0
dan –c
a
c.
Jika a
=
0, maka |a|
= 0
c.
Jika a
> 0, maka |a|
= a
c.
Jika a
< 0, maka |a|
= -a.
Karena –c
a,
maka –a
c.
Jadi |a|
c.
Dengan
demikian dapat diambil kesimpulan bahwa jika c
0, maka |a|
c
jika dan hanya jika –c
ac.
(d) Dengan
mengambil c
= |a|,
maka dapat ditunjukkan bahwa –|a|
a
|a|
2.2.3.
Ketaksamaan segitiga.
Jika
a,
b
R,
maka |a
+ b|
|a|
+ |b|
Bukti.
Misalkan
a,b
R.
Menurut teorema 2.2.2(d) -|a|
a
|a|
dan -|b|b
|b|.
Dengan menjumlahkan kedua ketaksamaan ini, diperoleh
-(|a|
+ |b|)
a
+ b
(|a|
+ |b|).
Dengan demikian menurut teorema 2.2.2(c) diperoleh |a
+ b|
|a|
+ |b|.
2.2.4.
Akibat
Jika
a,
b
R,
maka
- | a – b |
- | a – b| |a| + |b|
Bukti
(a) Kita
ketahui bahwa a
= a
– b
+ b.
Dengan menerapkan ketaksamaan segitiga, maka |a|
= |a
– b
+ b|
|a
– b|
+ |b|
atau |a|
– |b|
|a
– b|.
Demikian halnya bahwa b
= b
– a
+ a.
Dengan menerapkan ketaksamaan segitiga, maka |b|
= |b
– a
+ a|
|b
– a|
+ |a|
atau -|b
– a
|=
-|a
– b|
|a|
– |b|.
Dengan
demikian diperoleh -|a
– b|
|a|
– |b|
|a
– b|.
Menurut
teorema 2.2.2(c) ||a|
– |b||
|a
– b|.
(b).
|a
+ (-b)||a|
+ |-(b)| =
|a|
+ |b|
2.2.5. Akibat
Jika
a1,
a2,
… an,
maka | a1
+ a2
+ …+ an
| |a1
+ a2
+ … + an|
2.2.6
Garis Bilangan Real (The Real Line)
Interpetasi
geometri yang dikenal di antaranya garis bilangan real (real
line).
Pada garis real, nilai mutlak |a|
dari
suatu elemen a
R
adalah
jarak a
ke
0. Secara umum, jarak
(distance)
antara elemen a
dan
b
di
R
adalah
|a
– b|.
Perhatikan gambar berikut.
Gambar
2.1 Jarak
antara a
= -2 dan b
= 3
2.2.7
Definisi
Misalkan
aR
dan
Lingkungan-(-neighborhood)
dari a
adalah
himpunan (a)
= {x
R
:
|x
– a|
<
Gambar
2.2
Lingkungan
(a)
Dapat
dilihat bahwa x(a)
jika dan hanya jika a-<
x
< a
+.
Lingkungan juga sering disebut dengan kitaran.
Sebagai
contoh, jika a
= 5 dan=
2, maka (a)
=V2(5)
={xR:
|x
– 5| < 2}
2.2.8
Teorema
Jika
aR
dan x
pada lingkungan
(a)
untuk setiap maka
x
= a.
Bukti.
Jika
x
memenuhi
|x
– a|
<
untuk
setiap
maka berdasarkan teorema 2.1.12, diperoleh x
= a.
2.2.9
Contoh
1.
Misalkan A
= {x
:
0 < x
< 1}. Jika aA
dan misalkan adalah
bilangan terkecil dari a
dan 1 – a,
maka (a)A.
Jadi setiap elemen dari A
mempunyai lingkungan-
yang termuat dalam A.
2. Jika
I
= {x
:
0 x
1}. Maka untuk sebarang >
0 (0) memuat titik-titik yang tidak termasuk dalam I,
misalkan dengan mengambil x0
= (0)I.
3. Jika
|x
– a|
<
dan
|y
– b|
<
maka:
|(x
+ y)
– (a
+ b)|
= |(x
– a)
+ (y
– b)|
|(x
– a)|
+ |(y
– b)|
< 2
Jadi
x(a)
dan y(b)
maka x
+ y(a
+
b)
dan tidak perlu dalam (a
+
b)
2.2.10
Soal Latihan
1.
Jika a,bR,
tunjukkan bahwa
a. |a|
=
b.
=
2. Jika
a,
b
R,
tunjukkan bahwa |a
+ b|
= |a|
+ |b|
jika dan hanya jika ab
0
3. Tunjukkan
bahwa |x
– a|
< jika dan hanya jika a
- < x
< a
+
4.
Jika a
< x
< b
dan a
< y
< b,
tunjukkan bahwa |x
– y|
< b
– a
5.
Carilah
semua xR,
yang memenuhi ketaksamaan berikut.
a.
|4x
– 5| 13
b.
|x2
– 1|3
6.
Carilah semua
xR,
yang memenuhi persamaan |x
+ 1| + |x
– 2| = 7
7.
Carilah semua
xR,
yang memenuhi
a.
|x
– 1| > |x
+ 1|
b.
|x|
+ |x
+ 1| < 2
8.
Tentukan dan sketsalah himpunan dari pasangan berurutan (x,y)
di RR
yang memenuhi ketaksamaan berikut.
a. |x|
|y|
b. |x|
+ |y|
1
c. |xy|
2
d. |x|
- |y|
2
9. Tunjukkan
bahwa jika a,bR,
dan ab
maka terdapat lingkungan-
U
dari a
dan V
dari b
sedemikian sehingga UV
= Ø.
2.3
Sifat Kelengkapan Bilangan Real
2.3.1
Definisi
Misalkan
S
adalah
himpunan bagian tak kosong dari R.
(a)
Himpunan
S
dikatakan
terbatas
ke atas (bounded
above)
jika terdapat suatu bilangan uR
sedemikian
hingga s
u
untuk semua sS.
Setiap bilangan seperti u
disebut dengan batas
atas (upper
bound)
dari S.
(b)
Himpunan
S
dikatakan
terbatas
ke bawah (bounded
below)
jika terdapat suatu bilangan wR
sedemikian
hingga w
s
untuk
semua sS.
Setiap bilangan seperti w
disebut dengan batas
bawah (lower
bound)
dari S.
(c)
Suatu
himpunan dikatakan terbatas
(bounded)
jika terbatas ke atas dan terbatas ke bawah. Jika tidak, maka
dikatakan tidak
terbatas (unbounded).
Sebagai
contoh, himpunan S
:={xR,
x
< 2} ini terbatas ke atas, sebab bilangan 2 dan sebarang bilangan
lebih dari 2 merupakan batas atas dari S. Himpunan ini tidak
mempunyai batas bawah, jadi himpunan ini tidak terbatas ke bawah.
Jadi, S
merupakan
himpunan yang tidak terbatas.
2.3.2
Definisi
Misalkan
S
adalah
himpunan bagian tak kosong dari R.
(a)
Jika
S
terbatas
ke atas, maka suatu bilangan u
disebut
supremum
(batas
atas terkecil) dari S
jika
memenuhi kondisi berikut:
(1)
u
merupakan
batas atas S, dan
(2)
jika
v
adalah
sebarang batas atas S, maka u
v.
Ditulis
u
= sup S
(b)
Jika
S
terbatas
ke bawah, maka suatu bilangan w
disebut
infimum
(batas
bawah terbesar) dari S jika memenuhi kondisi berikut:
(1)
w
merupakan
batas bawah S, dan
(2)
jika
t
adalah
sebarang batas bawah S, maka t
w
Ditulis
w
= inf S.
Mudah
untuk dilihat bahwa jika SR.
maka hanya terdapat satu supremum, atau supremumnya tunggal. Juga
dapat ditunjukkan bahwa jika u’
adalah
sebarang batas atas dari suatu himpunan tak kosong S, maka
sup S
u’,
sebab sup S
merupakan
batas atas terkecil dari S
Selanjutnya
jika SR
maka terdapat empat kemungkinan, yaitu:
- mempunyai supremum dan infimum
- hanya mempunyai supremum
- hanya mempunyai infimum
- tidak mempunyai supremum maupun infimum.
Setiap
bilangan real aR,
merupakan batas atas dan juga sekaligus batas bawah himpunan kosong
Ø.
Jadi himpunan Ø tidak mempunyai supremum maupun infimum.
Lemma
2.3.3.
Suatu
bilangan u merupakan supremum dari himpunan bagian tak kosong S
R,
jika
dan hanya jika u memenuhi kondisi berikut:
(1)
s
u untuk semua s S,
(2)
jika
v < u, maka terdapat s'S
sedemikian hingga v <
s’.
Lemma
2.3.4.
Sebuah
batas atas u
dari himpunan tak kosong S
di R
adalah supremum dari S
jika
dan hanya jika untuk setiap
> 0 terdapat
s1
S sedemikian hingga
u
– <
s1.
Bukti.
Jika
u
= sup S
dan untuk setiap
> 0 maka terdapat
s1S
sehingga u
–<
s1.
Karena u
– < u,
maka u
–
bukan
merupakan batas atas S.
Oleh karena itu, terdapat s1
S sehingga u
– <
s1.
Selanjutnya
diketahui u
– <
s1.
Jika u
merupakan batas atas S
dan jika memenuhi v
< u,
maka diambil =
u
– v.
Maka jelas >
0, dan diperoleh u
= sup S.
Contoh
1.3.5.
(a)
Jika suatu himpunan tak kosong S1
mempunyai
elemen sebanyak berhingga, maka dapat dilihat bahwa S1
mempunyai
elemen terbesar, namakan u,
dan elemen terkecil, namakan w.
Maka u
=
sup S1
dan w
= inf
S1
, dan keduanya merupakan elemen S1
.
(b)
Himpunan S2
:= {x
: 0 x
1} mempunyai batas atas 1. Akan dibuktikan bahwa 1 merupakan
supremumnya. Jika v
< 1,
maka terdapat s’S2
sedemikian
hingga v
< s'.
Oleh karena itu, v
bukan
merupakan batas atas S2
dan
karena v
merupakan
sebarang v
<
1,
maka dapat disimpulkan bahwa sup S2
=
1.
2.3.6.
Sifat Lengkap R
.
Jika
subset tak kosong S
R
terbatas
ke atas, maka supremumnya ada, yaitu terdapat uR
sedemikian
hingga u
=
sup S
.
Akibat
2.3.7.
Jika
subset tak kosong S
R
terbatas
ke bawah, maka infimumnya ada, yaitu terdapat w
R
sedemikian
hingga w
=
inf S
.
Bukti.
Misalkan
himpunan T
terbatas
ke bawah, T
R.
Dibentuk himpunan S
=
{-t
:
tT},
maka S
terbatas ke atas dan tidak kosong. Menurut Aksioma
Supremum,
sup S
ada,
namakan u
=
sup S
,
maka -u
=
inf T
.
2.3.7
Latihan Soal
1. Misalkan
S1:={xR
: x
0}. Tunjukkan bahwa himpunan S1
mempunyai batas bawah, tetapi tidak mempunyai batas atas. Tunjukkan
bahwa inf S1
= 0
2. Misalkan
S2
= {x
R:
x
> 0}. Apakah S2
mempunyai batas bawah? Apakah S2
mempunyai batas atas? Apakah inf S2
ada? Apakah sup S2
ada? Jelaskan alas an anda!
3.
Misalkan S4
=
. Temukan inf S4
dan sup S4.
4. Jika
himpunan S
R
mengandung satu anggota sebagai batas atasnya, tunjukkan bahwa batas
atas ini adalah supremum dari S.
5. Misalkan
himpunan tak kosong S
R
. tunjukkan bahwa u
adalah batas atas S jika dan hanya jika t
R
dan t
> u
berakibat bahwa t
S.
6. Tunjukkan
bahwa jika A
dan B
himpunan terbatas dan A,B
R,
maka AB
terbatas. Tunjukkan bahwa sup (AB)
= sup{sup A,
sup B}.
2.4.
Penggunaan Sifat Aksioma Supremum
2.4.1
Teorema
Diberikan
subset tak kosong S
R
yang
terbatas ke atas dan misalkan sebarang aR.
Jika himpunan a
+ S
:={a
+ s
: sS},
maka berlaku Sup
(a
+ S)
= a
+ sup S
Bukti.
Misalkan
u
=
sup
S,
maka
x
u
untuk
semua x
S,
sehingga a+
xa
+
u.
Oleh karena itu, a
+
u merupakan
batas atas dari himpunan a
+
S.
Akibatnya sup (a
+
S)
a
+ u.
Selanjutnya,
misalkan v
adalah
sebarang batas atas a
+
S,
maka a
+
x v,
untuk semua
xS.
Akibatnya x
v
- a,
untuk semua
xS.
Jadi v
– a
merupakan
batas atas S.
Oleh karena itu, u
= sup
S
v
– a,
sehingga a
+ u
v.
Karena v
adalah sebarang batas atas a
+ S, maka kita bisa mengganti v
dengan sup (a
+ S) sehingga diperoleh a
+ u
sup(a
+ S).
Karena
telah diperoleh: sup (a
+
S)
a
+
u
dan a
+ u
sup(a
+ S), maka dapat disimpulkan sup (a
+
S)
=
a
+
u
= a
+ sup S.
2.4.2
Teorema
Diberikan
subset tak kosong S
R
yang
terbatas dan sebarang bilangan real a >
0 .
Didefinisikan himpunan aS
:=
{as
:
sS},
maka berlaku inf
(aS
)
= a
inf
(S
)
.
Bukti.
Tulis
u
=
inf aS
dan
v
=
inf S
.
Akan dibuktikan bahwa u
=
av
.
Karena u
=
inf aS
,
maka u
as
,
untuk setiap sS
.
Karena v
=
inf S
,
maka v
s
untuk
setiap sS.
Akibatnya av
as
untuk
setiap sS
.
Berarti av
merupakan
batas bawah aS.
Karena u
batas
bawah terbesar aS,
maka av
u.
Karena u
as
untuk
setiap sS,
maka diperoleh
s
untuk setiap sS
(sebab
a
>
0 ). Karena v
=
inf S
,
maka
v
yang berakibat u
av.
Di lain pihak diketahui av
u
, akibatnya u
= av.
Dengan demikian inf
(aS
)
= a
inf
(S
).
2.4.3
Teorema
Misalkan
S
R,
SØ
dan S
terbatas.
a.
Jika a
> 0 dan aS
=
{as
: sS},
tunjukkan bahwa inf(aS)
= a
inf(S)
dan juga sup(aS)
= a
sup(S)
b. Jika
a
< 0 dan bS
=
{bs
: sS},
tunjukkan bahwa inf(bS)
= b
sup(S)
dan juga sup(bS)
= b
inf(S)
2.4.4
Teorema
Jika
A
dan B
subset tak kosong R
dan
memenuhi a
b
untuk semua aA
dan bB
, maka sup
A
inf
B
.
Bukti.
Diambil
sebarang bB
,
maka a
b
untuk
semua aA
.
Artinya bahwa b
merupakan
batas atas A,
sehingga sup A
b.
Selanjutnya, karena berlaku untuk semua bB,
maka sup A
merupakan
batas bawah B.
Akibatnya diperoleh bahwa sup A
inf
B.
Berikut
ini diberikan salah satu sifat yang mengaitkan hubungan antara
bilangan real dan bilangan asli. Sifat ini menyatakan bahwa apabila
diberikan sebarang bilangan real x,
maka selalu dapat ditemukan suatu bilangan asli n
yang
lebih besar dari x.
2.4.5
Teorema
Misalkan
f
, g
: D
R
sedemikian hingga f
(D)
dan g
(D)
terbatas diatas.
(a)
Jika f
(x)
g
(x),
untuk semua xD
maka sup f
(D)
sup
g(D)
(b)
Jika
f
(x)
g
(x),
untuk semua x,yD,
maka sup f
(D)
inf g
(D).
Bukti
(a)
Karena
f
(x)
g
(x),
untuk semua xD
dan g
(D)
terbatas diatas, maka f
(x)
sup
g(D).
Ini berarti sup g(D)
adalah batas atas {f
(x)
: xD}.
Karena itu sup
f
(D)
sup
g(D)
(b)
Misalkan x0D,
maka menurut hipotesis f
(x0)
g(y),
untuk semua yD.
Karena itu f
(x0)
batas bawah dari g(D)
sehingga f
(x0)
inf g(D).
Tetapi x0
adalah unsur sebarang di D
sehingga g(D)
adalah batas atas f
(D).
Akibatnya inf g(D)
adalah batas atas f
(D)
sehingga f
(D)
inf g
(D).
2.4.6
Sifat Archimedes.
Jika
xR,
maka terdapat nN
sedemikian
hingga x
<
n.
Bukti.
Ambil
sebarang xR.
Andaikan tidak ada nN
sedemikian
hingga x
<
n,
maka n
x,
untuk semua
nN.
Dengan kata lain, x
merupakan
batas atas N.
Jadi NR,
NØ
dan
N
terbatas ke atas. Menurut aksioma supremum, maka sup N
ada, yaitu misal
u
= sup N.
Karena u
– 1 <
u,
maka terdapat m
N
dengan
sifat u
– 1 < m.
Akibatnya u
<
m+1
dengan
m
+1N.
Timbul kontradiksi dengan u
=
sup
N.
Berarti u
bukan batas
atas N,
karena ada m
+ 1N
sehingga
u
<
m +
1. Jadi, pengandaian salah, yang benar adalah ada nN
sedemikian
hingga
x < n.
2.4.7
Akibat
Jika
S
={:
nN
},
maka inf S
= 0
Bukti.
Karena
S
=
Ø terbatas
ke bawah oleh 0, maka S mempunyau infimum, yaitu misal w
= inf S.
jelas bahwa w0.
Untuk sebarang > 0, dengan menggunakan Sifat Archimedes, terdapat
nN
sedemikian
hingga <
n,
akibatnya <. Oleh karena itu 0 w
<.
Akan
tetapi karena <
> 0 sebarang,
maka berdasarkan Teorema 2.1.12 diperoleh w
= inf S
= 0.
2.4.8
Akibat
Jika
t
> 0, maka terdapat nt
N
sedemikian hingga 0 < < t.
Bukti.
Karena
inf { : nN}
= 0 dan t
> 0, maka t
bukan batas bawah himpunan { : nN}.
Akibatnya terdapat ntN
sehingga 0 < <
t.
2.4.9
Akibat
Jika
y
> 0, maka terdapaty nyN
sedemikian hingga ny
-
1 <
y
< ny.
Bukti.
Sifat
Archimedes menjamin bahwa himpunan bagian Ey
= {mN
: y
< m
} dari N
tidak kosong. Menggunakan Sifat Urutan 1.2.1,
Ey
mempunyai
elemen yang paling kecil, yang dinotasikan dengan ny.
Oleh karena itu, ny
– 1 bukan elemen Ey
.
Akibatnya diperoleh bahwa ny
-
1 <
y
< ny.
2.4.10
Teorema
Ada
bilangan real positif x
sedemikian hingga x2
= 2
Bukti.
Misalkan
S
= {sR
: s
0 dan s2
< 2}. Jelas bahwa S
Ø sebab 0S
dan 1S.
S
terbatas keatas dengan slah satu batas atasnya adalah 2. Jika t
2,
maka t24.
Jadi, t
= 2 S.
menggunakan aksioma supremum, SR,
SØ
dan S
terbatas keatas, maka S
mempunyai supremum. Namakan x
= sup S,
dengan xR.
Akan
dibuktikan bahwa x2
=
2. Andaikan x2,
maka x2
< 2 atau x2
> 2.
Kemungkinan
I: untuk x2
< 2
Karena
x2
< 2, maka 2 – x2
> 0. Karena
,
maka
=
x2
+ x
+ x2
+ (2x
+ 1)
Karena
2 – x2
> 0 dan 2x
+ 1 > 0, maka > 0. Manurut akibat Archimedes, dapat ditemukan
nN,
sehingga < . Akibatnya (2x
+ 1) < 2 – x2,
sehingga: < x2
+ (2x
+ 1) < x2
+ 2 – x2
= 2. Dengan demikian diperoleh < 2, yang berarti bahwa x
+ S.
Kontradiksi dengan x
= sup S.
oleh karenanya tidak mungkin x
< 2.
Kemungkinan
II: x2
> 2
Karena
x2
> 2, maka x2
– 2 > 0.
Perhatikan
bahwa =
x2
–x
+ > x2
– . Karena x2
– 2 > 0 dan 2x
> 0, maka dipilih m
N,
sedemikian sehingga m
> atau < x2
– 2. Akibatnya > x2
– > x2
– (x2
– 2) = 2. Dengan demikian diperoleh > 2. Berarti x
- S,
yaitu x
- adalah batas atas S. Kontradiksi dengan x
= sup S.
oleh karena itu, tidak mungkin x2
> 2. Jadi pengandaian salah, yang benar adalah x2
= 2.
2.4.11
Teorema Densitas (The Density Theorem)
Jika
x,
yR
dengan
x
< y
, maka ada bilangan rasional q
Q
sedemikian hingga x
<
q
<
y.
Bukti.
Dengan
tidak mengurangi keumuman (without
loss of generality),
diambil x
0
.
Karena
x
y
,
maka y
0
dan y
x
0
. Akibatnya> 0, sehingga dapat dipilih nN
sedemikian
hingga
n
> .
Untuk
n
di
di atas, berlaku ny
nx
1,
yaitu nx
1ny
.
Karena nx
0
, maka dapat dipilih mN
sehingga
m
1nx
m.
Bilangan
m
di
atas juga memenuhi m
ny
,
sebab dari m
1nx
maka
diperoleh
m
nx
1ny
.
Jadi nx
m
ny
.
Akibatnya
untuk q
= mempunyai
sifat x
< = q
<
y.
Jadi,
terdapat bilangan rasional q
= dengan
sifat x
q
y
.
Berikut
ini diberikan akibat dari Teorema Densitas, yaitu di antara dua
bilangan real pasti dapat ditemukan bilangan irrasional.
2.4.12
Akibat
Jika
x,
yR
dengan
x
y,
maka ada bilangan irrasional r
sedemikian hingga x
r
y.
Bukti.
Menggunakan
Teorema Densitas, ada bilangan real dan dengan sifat ada bilangan
rasional q
dengan
sifat < q
< . Akibatnya, x
<
q<
y
dan
q
merupakan
bilangan irrasional.
2.4.13
Latihan Soal
1.
Tunjukkan bahwa sup = 1
2.
Jika S
= , tentukan supS
dan inf S.
3.
Misalkan S
R,
SØ
dan S
terbatas.
a.
Jika a
> 0 dan aS
=
{as
: sS},
tunjukkan bahwa inf(aS)
= a
inf(S)
dan juga sup(aS)
= a
sup(S)
b. Jika
a
< 0 dan bS
=
{bs
: sS},
tunjukkan bahwa inf(bS)
= b
sup(S)
dan juga sup(bS)
= b
inf(S).
4. Misalkan
X
adalah himpunan tak kosong dan misalkan f
: X
R
memiliki range yang terbatas di R.
Jika aR,
tunjukkan bahwa
a. sup{a
+ f(x):
xX
}
= a
+ sup{f
(x):
xR}
b. inf{a
+ f(x):
xX
}
= a
+ inf{f
(x):
xR}
5. Misalkan
A
dan B
adalah
subset tak kosong dari R
dan misalkan A
+ B
= {a
+ b
: aA,
bB
}.
Buktikan bahwa
a.
sup{A
+ B}
= sup A
+ sup B
b. sup{A
+ B}
= sup A
+ sup B
6.
Jika y
> 0, tunjukkan bahwa terdapat nNsedemikian
sehingga < y
2.5
Interval
Relasi
pada R
menentukan sebuah koleksi dari subset-subset yang dikenal dengan
interval. Notasi dan istilah untuk himpunan khusus ini sebagai
berikut. Jika a;
b R
dan
a
b,
maka interval buka yang ditentukan oleh a
dan
b
adalah
(a
,
b)
={x
R
:
a
< x < b}.
Titik-tiitk
a
dan
b
disebut
titik ujung-titik ujung dari interval buka (a
,
b),
tetapi titik ujung tersebut tidak termasuk. Jika kedua ujung termasuk
disebut interval tutup, maka ditulis: [a
,
b]
= {x
R
:
a
x
b}.
Himpunan
[a
,
b)
= {x
R
:
a
x
<
b}
dan (a
,
b]
= {x
R
:
a
< x
<
b}
disebut
interval-interval setengah buka yang ditentukan oleh titik a
dan
b.
Setiap interval di atas mempunyai panjang b
– a.
Jika a
=
b,
catat bahwa interval buka yang bersesuaian adalah himpunan kosong (a
, a)
= Ø.
Sementara
yang bersesuaian dengan interval tutup adalah himpunan dengan anggota
tunggal [a;
a]
= {a}.
Jika a
R
maka
himpunan-himpunan yang didefinisikan dengan [a
,) = {x
R
:
x
a}
dan (-,
a]
= {xR:a
x}
disebut interval tutup tak hingga.
Dalam
kasus ini titik a
disebut
titik akhir dari interval ini. Sering adalah baik untuk menuliskan R
dalam sebuah interval tak hingga. Dalam kasus ini kita tuliskan (-,)
= R.
2.5.1
Interval Bersarang
Kita
katakan sebuah barisan interval In,
nN,
disebut bersarang jika rangkaian berikut memenuhi:
I1
I2
I3
...
In
In+1
...
Untuk
contohnya, jika In
=
[0,
],
nN,
maka In
In+1
untuk semua n.
Maka interval-interval tersebut bersarang. Dalam kasus ini 0 termasuk
dalam semua In
dan
menurut sifat archimedes dapat digunakan untuk menunjukkan bahwa
satu-satunya anggota seperti itu hanyalah 0. Jadi In
= {0}.
Secara
umum sebuah barisan bersarang dari interval-interval tidak perlu
mempunyai anggota bersama. Sebagai contoh Jn
=
(0,
),
nN.
Ini merupakan barisan interval bersarang yang tidak mempunyai anggota
bersama. Ini benar karena untuk setiap x
> 0
maka terdapat m
N
sedemikian sehingga <
x sehingga
x
Jm.
Demikian
halnya untuk interval-interval Kn
=
(n
,
1),
nN,
adalah bersarang tetapi tidak punyai anggota bersama. Akan tetapi
adalah penting sifat dari R
bahwa setiap barisan bersarang dari interval-interval tutup mempunyai
anggota bersama. Kelengkapan dari R
memegang peranan esensial untuk menjelaskan sifat ini.
2.5.2
Sifat Interval bersarang
Jika
In
=
[an
,
bn],
nN
adalah barisan interval bersarang dari interval-interval tutup
terbatas, maka terdapat sebuah bilangan R
sedemikian sehingga In,
untuk semua nN.
Bukti.
Karena
interval-interval itu bersarang, kita punyai InI1,
untuk semua nN,
sedemikan sehingga an
b1,
untuk
semua nN.
Oleh karena itu himpunan tak kosong {an
:
nN}
terbatas
di atas, dan kita misalkan
adalah
suprimumnya. Jelas bahwa an,
untuk semua nN.
Kita klaim juga bahwa
bn
untuk
semua n.
Ini dapat dijelaskan untuk sebarang n,
bilangan bn
adalah
batas atas dari himpunan {ak
:
k
N
}.
Kita perhatikan dua kasus. (i) Jika n
k,
maka karena In
Ik
, kita punyai ak
bk· bn.
(ii) Jika k
< n,
maka karena Ik
In,
kita punyai ak
an
bn.
Jadi kita simpulkan bahwa ak
bn,
sehingga bn
adalah
batas atas dari {ak
:
k
N
}.
Oleh karena itu
bn
untuk
setiap nN.
Karena an
bn untuk
semua n,
kita punyai In,
untuk semua nN.
2.5.3
Teorema
Jika
In
=
[an,bn]
nN,
adalah sebuah barisan bersarang dari interval terbatas dan tutup
sedemikian sehingga panjang bn
–
an
dari
In
memenuhi
Inf
{bn
–
an:
nN}
= 0
maka
bilangan termuat dalam In
untuk semua nN
adalah tunggal.
Bukti.
Jika
=
Inf {bn
–
an:
nN},
maka
dengan argumen seperti dalam bukti 2.6.1 dapat digunakan untuk
menunjukkan bahwa an
,
untuk semua
nN,
sehingga selanjutnya dapat ditunjukkan bahwa xIn
, untuk semua nN
jika dan hanya jika
x.
Jika
kita punyai Inf
{bn
–
an:
nN}
= 0 , maka untuk setiap > 0, terdapat mN}
sedemikian sehingga 0
–bm
–
am
.
Karena ini memenuhi untuk semua >
0 maka dapat disimpulkan bahwa –=
0. Oleh karena itu kita simpulkan bahwa =yang
hanya sebuah titik yang termasuk dalam In
untuk semua n
N.
2.5.4
Latihan Soal
1. Jika
I
= [a,
b]
dan I’
= [a’,
b’]
adalah interval tutup di R.
Tunjukkan bahwa II’
jika dan hanya jika a’a
dan bb’.
2. Jika
SR
dan SØ.
Tunjukkan
bahwa S
adalah terbatas jika dan hanya jika terdapat interval tutup terbatas
I
sedemikian sehingga SI.
3. Misalkan
In=
[0, ] untuk nN.
Buktikan bahwa In
= {0}.
4.
Misalkan Kn=
[n,]
untuk nN.
Buktikan bahwa Kn
=
Ø.
5. Buktikan
bahwa himpunan R
adalah uncountable.

0 komentar:
Posting Komentar