BAB
I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Pendidikan
adalah jalan untuk memperoleh pahala yang berlipat ganda. Melalui
pendidikan baik pendidik maupun yang dididik akan memperoleh pahala
yang terus mengalir. Orang-orang yang berada di jalan keilmuan atau
pendidikan maka akan dimudahkan jalannya ke surga. Pahala dari
ilmunya akan terus mengalir walaupun telah mati. Berikut ini adalah
beberapa hadits yang menekankan pentingnya pendidikan.
- Rumusan Masalah
- Apa yang dimaksud dengan tangan diatas lebih baik dari pada tangan dibawah?
- Apa sajakah sikap baik dan buruk dalam menuntut ilmu?
- Apa yang dimaksud dengan orang muslim ibarat bangunan?
BAB II
PEMBAHASAN
- Orang Mukmin Bagaikan Sebuah Bangunan
حديث
ابى موسى رضى الله عنه,
عن
النبى صلى الله عليه وسلم قال:
ان
المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا,
وشبك
اصابعه.
(متفق
عليه)
Artinya:
Hadits
abi Musa r.a, dari nabi SAW bersabda: bahwasanya orang mukmin bagi
mukmin lainnya seperti bangunan yang menguatkan antara satu bagian
dgn bagian yang lain, dan rosulullah sambil menggenggam jemarinya.
Sumber:
lu’lu’ wal marjan (1670)
Nabi Shallallahu
‘Alaihi Wasallam juga
bersabda: “Perumpamaan
orang-orang yang beriman dalam hal kasih sayang, kecintaan dan
kelemah-lembutan diantara mereka adalah bagaikan satu tubuh, apabila
ada satu anggotanya yang sakit maka seluruh tubuh juga merasakan
sakit dan tidak bisa tidur”. (Muttafaqun
‘Alaih
Nabi Shallallahu
‘Alaihi Wasallam juga
bersabda: “Seorang
muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak mendzalimi
saudaranya, tidak menipunya, tidak memperdayanya dan tidak
meremehkannya”
- Sikap Yang Baik Dan Buruk Dalam Menuntut Ilmu
عن
ابى واقد الليثى,
ان
رسول الله صلى الله عليه وسلم بينماهو
جالس فى المسجد والناس معه,
اد
اًقبل ثلاثة نفر,
فاًقبل
اثنان الى رسول الله صلى الله عليه وسلم,
ودهب
واحد.
قال:
فوقفا
على رسول الله صلى الله عليه وسلم.
فاًمااًحدهما
فراًى فرجة فى الحلقة فجلس فيهاواماالاخر
فجلس خلفهم,
واماالثالث
فاًدبر داهبا فلما فرغ رسول الله عليه
وسلم,
قال:
اًلا
اخيركم عن النفر الثلاثة؟ امااًحدهم
فاًوى الى الله فاًواه الله:
واماالا
خر فاستحيا فاستحيا الله منه:
واماالا
خر فاًعرض فاًعرض الله عنه.
(رواه
البخارى ومسلم)
Artinya:
Dari
Abi Waqad Al laysy, bahwasanya rosulullah SAW duduk di masjid bersama
sahabat, tiba-tiba datang tiga orang, maka yang dua orang menghadap
pada rosulullah SAW sedangkan yang satu terus pergi, adapun salah
satu dari keduanya melihat ada lowongan ditengah majlis maka iapun
duduk ditempat tersebut sedang yang lainnya duduk dibelakang
sedangkan salah satu dari ketiganya telah pergi, maka ketika
rosulullah telah selesai dari nasehatnya, beliau bersabda:” sukakah
kamu aku beritakan kepada kalian tentang tiga orang tersebut? Adapun
orang pertama ia ingin mendekat pada allah maka allahpun memberi
tempat dekat, sedangkan orang kedua ia malu kepada Allah maka
Allahpun malu kepadanya dan adapun orang ketiga ia berpaling dari
Allah maka Allahpun berpaling darinya.
- Sikap yang baik
- Terhindar dari sikap ceroboh.
Biasanya orang
yang berilmu akan sangat hati-hati dalam berbuat, berkata, bersikap
atau memutuskan sesuatu. Namun, orang yang tidak berilmu biasanya
cendrung bersikap ceroboh dan gegabah, baik dalam ucapan, tindakan,
maupun sikap. Sehingga kecerobohan ini, seringkali membuat dia
menghadapi bahaya dan kesulitan. Hal itu disebutkan Allah dalam surat
Thaha [20]: 114.
فَتَعَالَى
اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ وَلَا
تَعْجَلْ بِالْقُرْءَانِ مِنْ قَبْلِ
أَنْ يُقْضَى إِلَيْكَ وَحْيُهُ وَقُلْ
رَبِّ زِدْنِيعِلْمًا
Artinya: “Maka
Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu
tergesa-gesa membaca Al Qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya
kepadamu, dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku
ilmu pengetahuan.”
- Dapat melihat persolaan dengan baik dan memutuskan dengan tepat
Hal ini disebutkan Allah dalam surat ar-Ra’d [13]: 19.
أَفَمَنْيَعْلَمُأَنَّمَاأُنْزِلَإِلَيْكَمِنْرَبِّكَالْحَقُّكَمَنْهُوَأَعْمَىإِنَّمَايَتَذَكَّرُأُولُوالْأَلْبَاب
Artinya:
“Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan
kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah
orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran”
Ini adalah
salah satu keutamaan orang yang berilmu, di mana dia akan sangat arif
menyikapi suatu persoalan. Baik persoalan sendiri, maupun orang lain
yang diserahkan penyelesaiannya kepadanya. Tidak seperti orang yang
buta, sebagaimana yang disebutkan Allah swt. Buta di sini tentu saja
bukan buta mata, tetapi buta hati karena tidak memiliki ilmu dan
wawasan.
Sikap bijaksana
ini tergambar dari sikap ratu Balqis seperti diceritakan Allah swt
dalam surat an-Naml [27]: 20-40. Ratu Balqis sebagai seorang ratu
yang berilmu dan bijaksana, membuat dia dihormati dan disegani
seluruh rakyat Yaman. Dia juga membuat nabi Sulaiman as. manjadi
kagum atas sikapnya yang sangat bijaksana dan ketika menjawab semua
pertanyaan Sulaiman.
- Hendaknya ia mensucikan hatinya dari segala macam sifat-sifat yang tidak terpuji. Seperti menjauhkan diri dari akidah yang jelek, perilaku kotor, hasud, dengki, dan sebagainya.
- Sucikanlah hati dari segala kekeruhan dan kotoran, iri, dengki dan kerusakan Aqidah (Syirik dan Bid’ah) dan keburukan akhlah agar mudah menerima ilmu serta menghafalnya serta mampu untuk memahami makna-makna yang detail dan hakikat kerancuan yang ada padanya karena ilmu tersebut sebagaimana ucapan sebagian para ulama Shalat siir (tersembunyi) dan Ibadah hati serta pendekatan batin maka sebagaimana tidak sah shalat yang dilakukan oleh anggota badan kita yang zahir kecuali dengan mensucikan yang zahir berupa hadats dan kotoran maka demikian pula tidak akan sah suatu Ilmu yang ia adalah Ibadah hati kecuali dengan mensucikannya dari kotoran sifat-sifat dan kotoran-kotoran akhlak yang buruk.
Apabila
hati itu baik untuk ilmu maka akan muncul keberkahannya dan ia
pun akan bertambah seperti tanah yang baik untuk tumbuhan maka pasti
tumbuhan itu akan baik dan berkembang.
Sebagaimana
dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
إِنَّ
فِي الْجَسَدُ مُضْغَةً إِذاَ صَلَحَتْ
صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَ إِذَا
فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ
وَهِيَ الْقَلْبُ.
“Ketahuilah
di dalam badan ini ada segumpal darah apabila ia baik maka akan
baiklah seluruh anggota badan tetapi apabila ia rusak maka rusaklah
semua anggota badan ketahuilah ia adalah Hati.”
- Hendaklah penuntut ilmu dalam menuntut ilmu memiliki niat yang baik dengan mengharap ridha Allah Swt, mengamalkan ilmu, menghidupkan syariat Islam, menerangi hatinya dengan berdzikir, membersihkan jiwa, dan mendekatkan diri kepada Allah Swt Penuntut ilmu wajib memiliki niat yang baik pada saat menuntut ilmu.
Allah
SWT berfirman yang artinya:
“ Padahal
mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan
ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya
mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian
Itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah : 5)
“dan
siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas
menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan,
dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? dan Allah mengambil
Ibrahim menjadi kesayanganNya.” (QS. An-Nisaa; : 125)
Dari
Sahabat Umar bin Khattab Radhiyallahu
anhu
berkata : Aku telah mendengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda :
ِإنَّماَ
اْلأ َعْماَلُ باِلنِّياَتِ وَإِنَّماَ
لِكُلِّ امْرِءِ ماَ نَوَى
“Sesungguhnya
segala amalan itu tergantung niatnya dan setiap orang hanya akan
mendapatkan dari apa yang ia niatkan.
Niat
yang baik dalam menuntut ilmu adalah : Hendaklah di tujukan hanya
untuk mengharap Wajah Allah Ta’ala, beramal dengannya, menghidupkan
syariat, menerangi hatinya, menghiasi batinnya, dan mengharapkan
kedekatan dengan allah Ta’ala pada hari kiamat serta mencari segala
apa yang Allah sediakan untuk ahlinya (Ahli Ilmu) berupa
keridhaan dan karunianya yang besar.
Sufyan
Ats-Tsauri Rahimahullah
Mengatakan : Tidak ada yang paling sulit yang aku obati pada diriku
kecuali niatku, dan janganlah ia bertujuan dengan menuntut ilmu
itu untuk memperolah keuntungan duniawi seperti kepemimpinan,
jabatan, kehormatan dan harta berbangga dihadapan teman-temannya, di
agungkan manusia, menjadi pemimpin dimajelis dan yang sepertinya,
akhirnya ia gantikan yang mulia dengan keburukan .
- Hendaknya seorang penuntut ilmu bersifat qana’ah dalam makanan dan pakaian. Sebab dengan sifat sabar dan qana’ah maka ia akan memperoleh keluasan ilmu dan dapat mengonsentrasikan hatinya untuk menggapai semua cita-cita dan pada gilirannya ia akan memperoleh sumber-sumber ilmu yang bermanfaat.
- Luangkan waktu di awal-awal menuntut ilmu
Manfaatkan
waktu muda untuk segera menuntut ilmu dan jangan tertipu dengan
saufa (saya akan –saya akan) dan angan-angan karena setiap detik
umur kita yang telah berlalu tidak akan terulangi kembali. Para ulama
kita mengatakan, ‘Ilmu itu apabila engkau luangkan seluruh waktumu
maka ia akan memberikanmu separuhnya.
- Manfaatkan waktu dan sisa-sisa umur dalam menuntut ilmu.
- Jauhkan banyak makan dan minum dan cukupkan diri seadanya.
Imam
Asy-Syafi’I rahimahulloh berkata ; “ aku tidak pernah merasakan
kekenyangan selama enam belas tahun.
- Hendaklah bersikap hati-hati dan mengambil keringanan yang diberikan oleh Allah Ta’ala.
- Kurangi makanan yang menimbulkan kebodohan, kelemahan, dan lupa.
- Kurangi tidur dan biasakan badan berolah raga dan kurangi berhubungan badan.
- Carilah teman baik dalam menuntut ilmu
- Sikap buruk
- Hasad (iri dengki).
Yaitu tidak
suka terhadap nikmat yang Allah berikan kepada saudaranya yang lain,
sekalipun dia tidak menginginkan nikmat tersebut hilang dari
saudaranya.Benci melihat temannya lebih pintar darinya, benci melihat
ketekunan seseorang dalam belajar.
Ini juga
merupakan sifat tercela yang dimiliki kaum Yahudi.
Allah berfirman :
Allah berfirman :
أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا ءَاتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ فَقَدْءَاتَيْنَاءَالَإِبْرَاهِيمَالْكِتَابَوَالْحِكْمَةَوَءَاتَيْنَاهُمْمُلْكًاعَظِيمًا
"Ataukah
mereka dengki kepada manusia lantaran karunia yang Allah telah
berikan kepadanya ? Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan
Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya
kerajaan yang besar. An Nisa' :54
Orang yang
dengki maka hidupnya akan selalu tersiksa dengan keberhasilan orang
lain, ya Allah, semoga kita dijauhkan dari sifat ini.
- Sombong.
Kesombongan
adalah sikap menolak kebenaran dan meremehkan manusia. Dan ini
dilarang dalam Islam. Jika kita salah dalam memahami sesuatu kemudian
diingatkan seringkali kita merasa sombong.
Ketahuilah bahwasannya Allah berfirman :
Ketahuilah bahwasannya Allah berfirman :
وَيَوْمَالْقِيَامَةِتَرَىالَّذِينَكَذَبُواعَلَىاللَّهِوُجُوهُهُمْمُسْوَدَّةٌأَلَيْسَفِيجَهَنَّمَمَثْوًىلِلْمُتَكَبِّرِينَ
”Dan pada
hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap
Allah, mukanya menjadi hitam. Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada
tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri?" Az Zumar 60.
Dan bila kita
memiliki ilmu, Ingatlah bahwa apa saja yang kita miliki adalah
sekedar pemberian Allah saja bukan semata-mata dari diri kita
sendiri.
يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا قُلْ لَا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلَامَكُمْ بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلْإِيمَانِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Mereka merasa
telah memberi ni'mat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah:
"Janganlah kamu merasa telah memberi ni'mat kepadaku dengan
keislamanmu, sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan ni'mat
kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah
orang-orang yang benar." Al Hujurat 17.
- Ta'ashub (fanatik) terhadap suatu madzhab tertentu.
Seorang
penuntut ilmu dilarang ta'ashub golongan atau madzhab, karena hal itu
akan membuka pintu perpecahan.
Allah berfirman
:
وَأَطِيعُوا
اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا
فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ
وَاصْبِرُوا إِنَّ
اللَّهَمَعَالصَّابِرِينَ
"Dan
ta'atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu
berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang
kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang
yang sabar." Al Anfaal : 46
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِإِنْكُنْتُمْتُؤْمِنُونَبِاللَّهِوَالْيَوْمِالْآخِرِذَلِكَخَيْرٌوَأَحْسَنُتَأْوِيلًا
"Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." An Nisa' :59
إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ
"Sesungguhnya
orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi
bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka.
Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian
Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka
perbuat". Al An'am : 159
- Su'udzon (buruk sangka).
Misalnya buruk
sangka terhadap orang lain yang melakukan kebaikan disangka mereka
melakukan riya' agar dipuji, baik itu rajin dalam ibadah, banyak
dalam sedekah, rajin belajar, dll.
Hal ini
dilarang karena Allah telah berfirman :
يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ ءَامَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا
مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ
إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ
بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ
أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا
فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ
إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan buruk-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari buruk-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." Al Hujurat :12
“dan
ketahuilah perbuatan ini adalah sifatnya dari orang munafik .Allah
berfirman :
الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ سَخِرَ اللَّهُمِنْهُمْوَلَهُمْعَذَابٌأَلِيمٌ
"Orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih." At Taubah : 79.
Ayat diatas
menceritakan perbuatan orang munafiq, yang bila kaum mu'minin
bersedekah dengan harta yang banyak mereka mencelanya dengan
menyangka mereka (mu'minin) telah berbuat riya', WAllahul Musta'an.
- Tangan Yang Diatas Lebih Mulia Dari Yang Dibawah
حديث
لبن عمر رضى الله عنه,
اًن
رسول الله عليه وسلم قال,
وهو
على المنبر,
ودكر
الصدقة و التعفف والمسئلة:
اليد
العليا خير من يد السفلى,
فاليد
العليا هى المنفقة,
والسفلى
هى السائلة.
(متفق
عليه)
Artinya:
Ibnu
umar r.a berkata: ketika nabi SAW khutbah di atas mimbar dan menyebut
sedekah dan minta-minta, maka bersabda : tangan yang diatas lebih
baik dari tangan yang dibawah, tangan yang diatas itu memberi dan
yang dibawah yang meminta.
حديث
حكيم بن حزام رضى الله عنهو خن انبى صلى
الله عليه وسلم,
قال:
اليد
العلياخير من اليد السفلى,
وابداً
بمن تعول,
وخير
الصدقة عن الظهر غنى,
ومن
يستعفف يعفه الله,
ومن
يستغن يغنه الله.
(متفق
عليه)
Artinya:
Hakiem
bin hizam r.a berkata: nabi Saw bersabda: tangan yang diatas lebih
baik dari tangan yang dibawah, dan dahulukan keluargamu (orang-orang
yang wajib kamu belanjai) dan sebaik-baik sedekah itu dari dari
kekayaan (yang berlebihan), dan siapa yang menjaga kehormatan diri
tidak meminta-minta, maka Allah akan mencukupinya , demikian pula
siapa yang beriman merasa sudah cukup maka allah akan membantu
memberinya kekayaan.
BAB III
PENUTUP
- Kesimpulan
Sedekah
dan minta-minta, maka bersabda : tangan yang diatas lebih baik dari
tangan yang dibawah, tangan yang diatas itu memberi dan yang dibawah
yang meminta.
Perumpamaan
orang-orang yang beriman dalam hal kasih sayang, kecintaan dan
kelemah-lembutan diantara mereka adalah bagaikan satu tubuh, apabila
ada satu anggotanya yang sakit maka seluruh tubuh juga merasakan
sakit dan tidak bisa tidur.
- Saran
KATA
PENGANTAR
Assalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahirabbilalamin,
banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi sedikit sekali yang kita
ingat. Segala puji hanya layak untuk Allah Tuhan seru sekalian alam
atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada
terkira besarnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan
judul ”HADIST
TARBIYAH”.
Dalam penyusunannya, penulis memperoleh banyak bantuan dari berbagai
pihak, karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada: Kedua orang tua dan segenap keluarga besar
penulis (Pak Ihsan,Bu khusniah) yang telah memberikan dukungan,
kasih, dan kepercayaan yang begitu besar. Dari sanalah semua
kesuksesan ini berawal, semoga semua ini bisa memberikan sedikit
kebahagiaan dan menuntun pada langkah yang lebih baik lagi. Meskipun
penulis berharap isi dari makalah ini bebas dari kekurangan dan
kesalahan, namun selalu ada yang kurang. Oleh karena itu, penulis
mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar makalah ini dapat
lebih baik lagi. Akhir kata penulis berharap agar makalah ini
bermanfaat bagi semua pembaca.
Mataram,
Januari 2013
Penyusun
DAFTAR
ISI
Kata
Pengantar ii
Daftar
Isi iii
BAB
I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang 1
- Rumusan Masalah 1
BAB
II
PEMBAHASAN
- Orang mukmin bagaikan sebuah bangunan 2
- Sikap yang baik dan buruk dalam menuntut ilmu 3
- Tangan yang diatas lebih mulia dari yang dibawah 11
BAB
III
PENUTUP
- Kesimpulan 12
- Saran 12
MAKALAH
HADIST
TARBIYAH
Disusun
Oleh
Nama :
MILHANAH
NIM :
151112104
Kelas :
III C
Jurusan :
Pendidikan Bahasa Arab
FAKULTAS
TARBIYAH
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI MATARAM
2013

0 komentar:
Posting Komentar