RSS
INTRODUKSI
Ilmu Ekonomi Internasional adalah cabang ilmu ekonomi yang mempelajari segala sesuatu mengenai hubungan ekonomi antar-negara dan keterkaitan ilmu ekonomi mikro (penentuan harga/alokasi sumber) dengan ilmu ekonomi makro (pendapatan nasional/GNP, perkapita/GDP dan sumber daya agregat).
Bentuk hubungan ekonomi internasional, baik pertukaran maupun utang/piutang, menggambarkan kedudukan ekonomi suatu negara dalam hubungannya dengan negara lain. Beda hubungan ekonomi antar-negara dengan antar-daerah dalam satu negara : 

1.      perbedaan dalam mata uang
2.      beda peraturan-peraturan yang
       dikeluarkan oleh Pemerintah
3.      derajat mobilitas sumber daya
4.      perbedaan lain : hukum, budaya, adat-istiadat, politik, selera.
Jarang sekali ada negara yang ekonominya benar-benar tertutup, oleh karena itu perlu dipelajari ekonomi internasional. Setiap ada perubahan permintaan atau penawaran agregat di pasar dunia, termasuk harga, maka pengaruhnya dirasakan dalam bentuk perubahan ekspor/impor dan secara tidak langsung juga pada produksi dan harga di dalam negeri.
Renaissance = keinginan untuk mengeksplorasi dunia lain. Kelompok merkantilisme sering dibedakan menjadi 2 :
1.      kelompok Bullionist, lebih tegas dalam mengaitkan tingkat kemakmuran negara dengan peningkatan stok logam mulia, mendorong kebijakan ekonomi yang menghasilkan surplus ekspor, logam mulia berfungsi sebagai uang, tokoh utama : Gerald Malynes
2.      kelompok Merkantilis murni, mengaburkan perbedaan uang dan modal (uang dianggap modal), masalah suku bunga : menentang adanya riba, suku bunga rendah mendorong kegiatan ekonomi. Harga terus meningkat, uang beredar perlu meningkat. Maka, uang sangat penting. Jalan memperbanyak uang dengan perdagangan internasional.
Tokoh-tokoh merkantilis murni antara lain :
Josiah Child : perdagangan internasional menghasilkan kemakmuran, menambah kekuasaan. Melalui perdagangan dan agama, ekspor didorong, impor dibatasi. Ekspor logam mulia dilarang. Barang-barang ekspor diberi subsidi supaya dapat dijual murah, meningkatkan kurs asing, menjatuhkan mata uang sendiri. Ekspor bahan mentah dilarang agar harganya di dalam negeri tetap rendah. Barang modal dan tenaga teknisi dilarang diekspor. Upah dipertahankan pada tingkat serendahnya, agar harga-harga di dalam negeri tetap.
James Stenard : golongan rakyat terendah dalam negara pedagang harus ditekan sampai pemenuhan kebutuhan fisik saja. Usahakan memperoleh monopoli perdagangan dan daerah jajahan.
Thomas Mun/Louis XIV (PM Perancis) : dikenal dengan sebutan Colbertisme, menitikberatkan pada perkembangan industri dalam negeri daripada perdagangan internasional.
Von Hornigh/Beker : memperkenalkan Cameralisme, upaya pegawai keuangan memupuk logam mulia untuk kepentingan kerajaan melalui kebijakan fiskal.
Kesatuan pandangan kelompok Bullionist dan Merkantilis murni : pemerintah harus mengatur perdagangan luar negeri secara ketat demi pembinaan negara nasional yang kuat. Timbulnya negara nasional yang kuat ini merupakan awal dari Kapitalisme.

TEORI KLASIK
Akhir abad 18 : mulai hilangnya campur tangan Pemerintah atas perdagangan luar negeri.
Richard Cantilon : keluar/masuk logam mulia di suatu negara erat hubungannya dengan tingkat harga barang/jasa di negara itu, dan berpengaruh pada neraca perdagangan.
David Hume : usaha untuk menumpuk logam mulia dengan ekspor sia-sia karena hanya akan menyebabkan kenaikan impor. Penumpukan logam mulia oleh perorangan menghambat kegiatan ekonomi (idle money).
John Locke (teori kuantitas uang) : surplus ekspor akan menaikkan harga-harga di dalam negeri dan menambah jumlah uang beredar. Price-Specie flow mechanism (mekanisme penyesuaian neraca perdagangan) : harga barang/jasa di dalam negeri naik maka konsumen mencari harga lebih murah di negara lain dan meningkatkan impor. Specie = logam mulia.
Adam Smith : perdagangan internasional harusnya didasari azas saling menguntungkan. Ekspor adalah barang berlebih atau barang unggulan saja agar tidak terjadi perang harga. Perdagangan antar-negara yang bebas dan tidak terhalang berbagai peraturan pemerin-tah akan memberi hasil maksimal, karena masing-masing negara akan melakukan spesialisasi dalam produksi yang paling cocok/menguntungkan. Kritik Smith atas Merkantilisme :
a)      definisi kemakmuran, bukan banyaknya logam mulia, tetapi banyaknya barang-barang yang dimiliki. Mengembangkan stok produk negara melalui perdagangan, bukan perdagangan, karena semata-mata untuk menumpuk logam mulia melalui surplus ekspor
b)      doktrin negara nasional yang kuat, sebatas terhadap militer dari luar, tata hukum dan keadilan dalam negeri, atau melaksanakan pekerjaan umum. Usaha lain harus diserahkan kepada swasta.
Sumbangan positif  Smith :
v     spesialisasi internasional dalam produksi dengan Natural Advantage (sumber alam) dan Acquirred Advantage (kemampuan/keterampilan/produk yang belum diproduksi negara lain) dilakukan terus sampai menghasilkan Absolute Advantage (negara mampu memproduksi barang/jasa dengan jam/hari kerja lebih sedikit dibandingkan jika dibuat oleh negara lain)
v     Vent for surplus theory (teori pelemparan surplus) kelebihan produksi suatu negara ditukar dengan kelebihan produksi negara lain mencegah pemborosan.
Ricardo : teori biaya komparatif :  manfaat bersama diperoleh bila masing-masing negara mengekspor barang-barang yang memiliki keuntungan komparatif (Term Of Trade =TOT = 1:1). Misalnya :

Biaya jam kerja per output

                    Kain  Anggur     DTD.. 

Portugal                   90            80       1 : 1,125

Inggris            100      120  1 : 0,200

Portugal memiliki Absolute advantage kedua jenis barang, perdagangan 2 negara dapat terjadi bila Portugal produksi anggur saja, Inggris kain saja. Manfaat terbesar diterima Inggris, sbb :
keuntungan Portugal =  90 – 80 = 10
keuntungan Inggris = 120 –100 = 20
TOT = 1 : 1 artinya, Portugal  memperoleh 1 unit kain Inggris untuk tiap 1 unit anggurnya. Manfaat sama diperoleh bila, masing-masing negara menghasilkan satu unit barang ekspor lebih murah daripada satu unit barang impor bila barang ini harus diproduksi sendiri.

                        Kain     Anggur      

Portugal                             90            80       

Inggris                   200      210     .

Hasil perdagangan internasional = negara dan rakyat menjadi makmur dan juga seluruh dunia. Manfaat : 1)lebih banyak barang diproduksi, 2)lebih banyak konsumsi.

                        Kain     Anggur      

Portugal                           90             80       

Inggris                  85        95       .  

John Stuart Mill : TOT tidak harus 1 : 1, sepanjang   ada  penawaran/permintaan antara 2 negara bisa terjadi perdagangan.

                    Kain   Anggur    DTD.. 

Portugal                      30        20          1 : 1,5

Inggris               15     30     1 : 2,0 .  

TOT 1 : 1, yaitu Portugal melepas 1 anggur untuk 1 kain Inggris. Padahal di dalam negeri, Portugal melepas 1 kain untuk 1,5 anggur. Maka TOT- nya harus lebih besar dari DTD (TOT > DTD minimal). Di dalam negeri Inggris melepas 2 anggur untuk 1 kain. Maka TOT yang adil = 1 : 1,75. Jadi, 1,5 < DTI < 2,0.  Portugal melepas 1 anggur untuk 1,75  kain (hemat = 0,25), Inggris melepas 1,75 kain untuk 2 anggur (hemat = 0,25).
Syarat kedua Ricardo : keseimbangan internasional tercapai bila nilai total ekspor = nilai total impor tidak harus tercapai. Sebab, ada hukum persamaan permintaan internasional = hasil produksi suatu negara ditukar dengan hasil negara lain, nilai ekspornya dapat secara tepat digunakan untuk membayar nilai impor. Kecuali, ada negara curang yang memalsukan data biaya dan DTD.
Asumsi-asumsi Ricardo dan Mill :
1.      Berlaku bagi 2 negara 2 barang, dan mengadaptasi asumsi klasik = dilakukan dengan "barter"
2.      Nilai dengan dasar jam kerja/ labour theory of value tidak realistis, tapi efektif karena kombinasi modal dan labour dalam proporsi yang tetap efeknya sama dengan tanpa kombinasi
3.      Tidak ada perubahan teknologi, bila ada, masing-masing negara prefer diversifikasi daripada spesialisasi produk
4.      Biaya produksi per satuan konstan, bila berlaku hukum biaya yang meningkat/menurun (Bastable), spesialisasi menjadi tidak sempurna
5.      Keterbatasan gerak faktor produksi antar-negara, tetapi bebas di dalam negeri. Hal-hal seperti ketidakcocokan keterampilan dengan pekerjaan dan pendidikan, monopoli golongan, kebiasaan tertentu, diskriminasi, dianggap tidak ada
6.      Biaya transport nol
7.      Kondisi pasar berada pada  persaingan sempurna (barang homogen). Yang sebenarnya, selalu ada non-competing labour group = tenaga kerja yang tidak bersaing, misalnya dokter, guru dll
8.      Kemakmuran lewat perdagangan internasional dapat dicapai dengan syarat : (1)tenaga kerja full employment dan dapat pindah kerja dengan cepat, (2)distribusi pendapatan tetap.
Senior : tingkat upah berupa uang di suatu negara harusnya ditentukan produktivitas tenaga kerja dibandingkan barang serupa yang dihasilkan negara lain, dan vice versa (kebalikan). Tidak setuju bahwa tingkat upah yang tinggi menghambat perdagangan antar-negara. Pendukung = Cairnes, Bastable, Marshall Pigou, Edgeworth.
Cairnes : bilamana persaingan sempurna tidak ada, harga barang/jasa tidak ditentukan melulu dari biaya produksi, tetapi juga "permintaan timbal-balik". Upah timbal-balik (vice versa) dengan produktivitas. Hukum permintaan timbal-balik = hukum persamaan permintaan internasional = nilai ekspor/impor sama = keseimbangan internasional.
Bastable : dengan adanya biaya meningkat/menurun dalam tingkat produktivitas, maka profit naik, dan selayaknya tingkat upah naik.
Taussig : teori biaya komparatif (mirip Ricardo) akan mengekspor barang/jasa yang harga/biayanya di dalam negeri relatif rendah terhadap harga barang/jasa serupa di luar negeri, dan mengimpor barang/jasa yang harga/biayanya relatif tinggi bila diproduksi sendiri. Asumsinya : biaya produksi = tenaga kerja dan bunga. Upah dibagi 2, upah riil (cermin poduktivitas) dan upah uang (naik/turun sesuai tingkat harga). Kemungkinan terjadi perdagangan antara 2 negara karena :
1.      absolute differences in costs = beda biaya mutlak suatu barang, misalnya : kedelai di Amerika, minyak Arab, pisang Brasil dll
2.      comparative differences in cost = perbandingan biaya 2 barang dan 2 negara, misalnya : beras Jepang dan beras Indonesia
3.      equal differences in costs = beda biaya upah di 2 negara itu, TOT = 1 : 1.
Dalam hal situasi 1 dan 2, perdagangan dapat terjadi terus. Dalam kondisi 3, hanya sementara sampai upah uang tercermin pada harga, yaitu harga menjadi sama dan perdagangan menjadi tidak menguntungkan kedua belah pihak karena biaya transportasi.
Graham : kesulitan perdagangan internasional  :
v     apabila 2 negara itu mempunyai kekuatan ekonomi relatif seimbang : a)seluruh keuntungan jatuh ke tangan negara yang lebih kecil/lemah, negara yang satunya tetap, b)negara yang lebih besar tetap memproduksi kedua macam barang, c)dua negara akan berebut spesialisasi pada produk yang memiliki biaya komparatif terrendah, karena pada TOT (1 : 1), akan mengeruk keuntungan
v     apabila tingkat konsumsi total 2 barang tidak sama, misalnya antara mobil dan korek api, a)seluruh keuntungan jatuh ke tangan negara yang lebih besar, negara yang kecil tetap, b)negara yang lebih kecil akan tetap memproduksi kedua macam barang, c)dua negara berebut spesialisasi barang yang mempunyai keuntungan komparatif besar, yaitu mobil. Tetapi tingkat konsumsi total mobil kecil, maka negara yang lebih kecil tetap harus produksi korek api juga.
INGAT : PERDAGANGAN luar negeri terjadi akibat perbedaan harga antara 2 komoditi yang dijual di 2 negara itu. Perdagangan multi-lateral tidak selalu bersifat langsung pembeli – penjual, tetapi bisa dengan perantara yang tidak melakukan ekspor/impor, contoh Singapura dan Hongkong.
Haberler : biaya riil diganti biaya alternatif. Biaya alternatif X : yaitu  sejumlah barang Y yang harus dikorbankan agar X dapat diproduksi. Biaya alternatif X dan Y dinyatakan dalam garis kemungkinan produksi (production possibility line) atau garis transformasi (transformation line). Pada dasarnya teori ini tidak mengubah teori klasik, karena tetap berpandangan bahwa perdagangan internasional timbul karena perbedaan dalam perbandingan ongkos produksi barang yang diperdagangkan. Tetap mengutamakan masalah nilai dan bahwa penawaran semua input inelastis. Contoh soal :
Biaya produksi per-unit produk (X) dibanding per kg beras (Y) sbb :
Produk        Biaya                Biaya

              Indonesia   Jepang

Mobil           75.000 kg     15.000 kg
Tekstil            22,5               10
Beras                 1                   1
Televisi         4.500              100
Sabun              1,35               0,6
Telur                4,5                  5
Tas                 337,5             120
Kayu             168,75            300
Waktu produksi 1 kg beras di Indonesia = 2 jam, di Jepang = 0,5 jam. Upah per jam, di Indonesia = Rp.100,- Jepang = Y.150,-. Kurs valas : 1 Yen = Rp.6,-
1.      Produk mana yang diexpor Indonesia ?
Biaya produksi per unit :  
= upah * jam kerja * kurs
Biaya 1 kg beras :  
Indonesia = 100x2x1  = Rp.200,-
Jepang   = 150x0,5x6 = Rp.450,-
Maka Harga-harga sbb :
Mobil = 75.000 x 200 = 15.000.000
Produk              Biaya               Biaya

              Indonesia     Jepang

Mobil       15.000.000   6.750.000
Tekstil             4.500           4.500
Beras                  200              450
Televisi        900.000         45.000
Sabun                 270               270
Telur                  900            2.250    
Tas                 67.500         54.000
Kayu             33.750        135.000
Diekspor = beras, telur, kayu.  Impor = mobil, tv, tas. Tekstil dan sabun tidak diperdagangkan.
2.      Produk mana yang keuntungan komparatifnya paling besar ?
Dari index harga : Mobil Jepang =
6.750.000 / 15.000.000 x 100 = 45
Produk                    Biaya               Biaya

                    Indonesia   Jepang

Mobil                       100                 45
Tekstil                      100               100
Beras                        100               225
Televisi            100                 5
Sabun                       100               100
Telur                         100              250    
Tas                             100                80
Kayu                 100               400
Indonesia = kayu. Jepang = tv
Dalam perdagangan internasional : Devaluasi (atau melemahnya nilai mata uang) akan meningkatkan ekspor. Bahkan, barang yang semula tidak dijual, diekspor.  Inflasi dalam negeri menyebabkan nilai mata uang melemah.




TEORI MODERN
Teori modern mencari faktor yang menentukan keunggulan komparatif atas barang tertentu. Masih bertahan pada aspek produksi (supply), tidak membahas permintaan barang. Bertil Ohlin (1933) yang pertama mengemukakan teori perdagangan internasional modern dalam buku Interregional and International Trade yang berisi pikirannya dan gurunya Eli Heckscher (1919). Disebut teori H-O : faktor keamanan/perdamaian sebelum PD I memacu perdagangan internasional. Konsep Teori H-O :
1.      perdagangan internasional/antar-negara tidak beda dengan antar-daerah, melainkan biaya transpor yang diabaikan
2.      barang yang dijual bukan atas dasar natural and acquired advantage, tapi karena proporsi faktor produksi untuk memproduksi barang itu (factor proportion = intensity theory)
3.      perbedaan harga barang antara 2 negara terjadi karena beda proporsi faktor produksi yang berlainan atau perbedaan "hadiah alam" (endow-ment factor) bagi suatu negara
4.      suatu negara memproduksi barang yang menggunakan faktor produksi relatif banyak (murah) sehingga harga barang murah
5.      penggunaan faktor produksi yang murah akan menaikkan harga bahan itu, sedangkan harga faktor produksi yang relatif sedikit akan turun. Contoh : Indonesia memiliki faktor produksi tenaga kerja relatif banyak sehingga diproduksi barang yang padat karya. Hal ini akan menaikkan upah. Sementara harga modal dan tingkat bunga akan turun.
6.      akhirnya, perdagangan internasional cenderung menyamakan harga-harga barang yang diperdagangkan, juga berikut harga faktor-faktor produksi barang itu (equilibrium).
Asumsi dasar teori H-O  :
a)      analisa terhadap banyak negara – banyak barang (minimal 3 negara)
b)      perubahan teknologi = nol
c)      tingkat teknologi = sama
d)      nilai/harga didasarkan biaya produksi konstan dan meningkat
e)      penjualan faktor produksi bebas di dalam negeri dengan persaingan, tapi tidak bebas melalui perbatasan
f)        persaingan bebas di pasar barang
g)      standard tukar = emas
h)      distribusi pendapatan bisa berubah dengan kecenderungan harga faktor produksi sama.
Kesamaan Ricardo-Mill  dengan teori H-O (Modern) :
1.      sebab terjadi perdagangan internasional = pihak-pihak merasa mendapat manfaat
2.      manfaat mula-mula terasa karena ada perbedaan harga bila memproduksi sendiri
3.      kemudian manfaat berkembang menjadi spesialisasi produk
4.      perbedaan harga timbul karena beda biaya produksi.
Perbedaan Ricardo-Mill  dengan teori H-O (Modern) :
o       Biaya produksi : R-M = ditentukan dari jumlah jam kerja; Teori H-O = ditentukan sumber daya "hadiah alam" (factor endowment)
o       Masa waktu : R-M = perdagangan berakhir bila perbedaan biaya komparatif hilang akibat teknik produksi/produktivitas sama; Teori H-O = penyamaan "hadiah alam" tidak akan terjadi di masa depan, maka perdagangan tidak pernah berhenti.
Diagram Edgeworth-Bowley, 1920, untuk menunjukkan kombinasi faktor produksi yang optimal bagi suatu negara atas dasar jumlah terbanyak, melanjutkan teori "hadiah alam" secara total. Contoh : dari 2 macam barang mana yang harus diproduksi dan berapa bila tersedia "n" tenaga kerja dan "n" modal?
Marshall Pigou (1930) dan Edgeworth : kurva kesediaan (offer curve) adalah kurva yang menunjukkan kesediaan suatu negara untuk menukar sejumlah barang produksi dengan sejumlah barang impor pada berbagai kemungkinan TOT. Menunjukkan interaksi penawaran /permintaan barang 2 negara itu untuk mencari TOT keseimbangan. Untuk menggambar kurva kesediaan perlu diketahui :
1.      kurva kemungkinan produksi
2.      kurva indiferen perdagangan
3.      kurva indiferen konsumsi.
Perdagangan terjadi kalau kurva kemungkinan produksi menggambarkan ongkos per-unit yang menurun. Bentuk kurva kesediaan tergantung  :
v     bentuk kurva kemungkinan produksi, karena mencerminkan banyaknya barang yang dihasilkan oleh masyarakat negara itu sesuai harga dari faktor produksinya
v     bentuk pelaku indiferen yang mencerminkan selera dan keinginan (preferensi) masyarakat negara itu.
Analisa kurva kesediaan hanya sisi permintaan. Analisa keseimbangan produksi/konsumsi dari 2 pihak, akibat :
v     kurva kemungkinan produksi lain – selera sama : perdagangan internasional menyebabkan masing-masing negara berusaha meningkatkan spesialisasi pada barang yang diekspor, mengorbankan produksi barang yang diimpor (Adam Smith).
v     kurva kemungkinan produksi sama – selera lain, dapat terjadi masing-masing negara meningkatkan spesialisasi dalam konsumsi, tetapi menghilangkan spesialisasi produksi. Perdagangan tergantung kekuatan permintaan konsumen.
v     kurva kemungkinan produksi sama – selera sama : tidak terjadi perdagangan, masing-masing memproduksi dan mengkonsumsi sendiri (subsisten).
v     kurva kemungkinan produksi lain -  selera lain : masing-masing negara justru mengimpor (bukan mengekspor) barang kebutuhannya. (a)bila kekuatan permintaan dan penawaran sejalan, misalnya negara A memiliki keunggulan komparatif produksi barang Y akan meminta lebih banyak barang X, sesudah perdagangan dilaksanakan, masing-masing negara meminta lebih banyak barang dengan harga relatif lebih tinggi, (b)kekuatan permintaan dan penawaran bertentangan. Negara A memiliki keunggulan komparatif dalam produksi barang Y akan meminta lebih banyak barang Y sesudah perdagangan berjalan (masing-masing negara meminta lebih banyak barang dengan harga relatif lebih rendah sehingga perdagangan tidak menguntungkan).

HARGA - HARGA
Faktor intensity reversal = kondisi negara yang tidak dapat memproduksi barang yang faktor produksinya relatif banyak (hadiah alam), tetapi justru mengimpor.
Teorema Euler = makin besarnya kesenjangan pendapatan negara maju dan negara berkembang (dalam pandapatan per kapita) banyak dipengaruhi ekonomi internasional, yaitu : hasil kerja perusahaan multinasional, investasi asing, dan kebijakan yang merugikan negara berkembang.
Penguji pertama kebenaran teori H-O = Mac Dougall (1951) : data yang digunakan adalah negara Inggris dan Amerika, kesimpulan : teori H-O salah, yang benar = teori Klasik, yaitu tidak ada faktor "hadiah alam" dalam ekspor 2 negara.
Leontief (1947) : struktur ekonomi Amerika yang disangka banyak orang : "mengekspor barang-barang padat modal dan mengimpor barang padat karya" ternyata salah. Yang terjadi : kebalikannya. Terdapat 2 kesimpulan : (a)paradox leontief : kesalahan teori H-O bahwa negara akan mengekspor barang dengan faktor produksi relatif lebih banyak dst, (b)teori H-O benar, karena ternyata Amerika memiliki relatif sedikit modal, (c)lahirlah konsep seorang tenaga kerja Amerika per-tahun sama dengan tiga tahun tenaga kerja negara lain.
Swerling (1954) : kesalahan Leontief, karena tahun penelitian 1947 dekat dengan PD II sehingga ekspor masih terlalu besar daripada impor (penjajahan).
Ellsworth (1954) : Leontief salah karena tidak semua asumsi teori H-O dipakai.
Valvanis-Vail : penggunaan model produksi dengan koefisien tetap dalam perdagangan internasional tidak tepat kecuali bila masing-masing negara memiliki paling sedikit satu faktor produksi yang tidak digunakan saat tidak ada perdagangan.
Vanek (1963) : menjelaskan adanya faktor produksi ketiga (natural resources) yang menurun menyebabkan perdagangan luar negeri Amerika berubah komposisi dengan mengekspor sumber daya alam yang relatif lebih rendah dan mengimpor s.d.a yang relatif lebih tinggi.
Tatemoto / Ichimura (1959) :  meneliti Jepang (sesuai teori HO).
Stolper / Roskamp : kasus Jerman Timur (sesuai teori HO).
Wahl : perdagangan Kanada dan Amerika (Kanada ekspor barang padat modal, tidak sesuai H-O).
Bharadwaj : India dan Amerika (India ekspor barang padat modal).
Samuelson (1998) : 2 asumsi :
1)      masing-masing barang fungsi produksinya (teknologi dll) sama/ homogen (sesuai teori H-O)
2)      strong factor intensity assumption, rasio modal terhadap tenaga kerja suatu industri yang optimal adalah yang terkecil (modal berbanding tenaga kerja = tak terhingga) dalam berapapun rasio upah terhadap bunga modal.
Dengan asumsi 2 ini maka dapat diurutkan barang-barang unggulan. Maka lahir asumsi :
3)      selera masing-masing negara sama : barang yang murah pasti barang yang dihasilkan dalam jumlah banyak dengan memanfaatkan hadiah alam yang dimiliki.
Minhas (1962) : bersama Arrow, Chenery, Solow, membuktikan :
1.      asumsi fungsi produksi sama untuk barang yang sama tidak selalu benar kalaupun benar masih  mungkin terjadi pembalikan intensitas faktor produksi, yaitu : barang X yang relatif padat modal di negara A dapat merupakan barang relatif padat karya di negara B.
2.      negara yang memiliki tenaga kerja relatif banyak mungkin memiliki keuntungan komparatif dalam barang padat modal dan sebaliknya maka terjadi harga barang padat karya naik tetapi upah turun.
3.      diagram Johnson memperlihatkan pembalikan intensitas faktor produksi.
Reversal point = titik balik diagram Johnson  :
1.      jumlah pembalik ganjil = barang padat karya di suatu negara merupakan barang padat modal negara lain. Bila terjadi perdagangan : harga faktor produksi akan bergerak ke arah yang sama (sama naik – sama turun)
2.      jumlah pembaliknya genap = normal, barang tsb adalah padat karya atau padat modal di kedua negara sama. Harga faktor pro-duksinya bergerak lawan arah (satu naik – satu turun). Misalnya : (a)2 negara memiliki tenaga kerja relatif banyak, keunggulan komparatif produksi = barang padat karya = harga faktor produksi 2 negara saling mendekati, (b)2 negara me-miliki tenaga kerja relatif banyak, keunggulan komparatif produksi = barang padat modal = harga faktor produksi saling menjauhi (saingan).
Jadi, tidak selalu benar, negara mengekspor barang dengan faktor produksi relatif banyak dimiliki atau dengan faktor produksi relatif murah. Perdagangan internasional cenderung akan menyamakan harga relatif faktor produksi jika tidak ada pembalikan intensitas faktor produksi (misalnya : teknologi atau proporsi pemilikan faktor produksi yang jauh beda).
Atas dasar teori lokasi, industri dibedakan atas :
1.      industri yang orientasinya pada sumber daya alam. Cirinya : biaya transpor  yang tinggi pada output karena bobotnya besar disebut INDUSTRI HULU
2.      yang orientasi pada pasar, tahap akhir atau lanjutan dari proses bahan mentah, biaya transpor lebih rendah, disebut INDUSTRI HILIR
3.      tidak mempunyai orientasi yang jelas (footloose industries), biaya transpor relatif.

PERTUMBUHAN
Hicks (1953) : gagasan pertama pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap perdagangan internasional, yaitu : bila negara A dan B berdagang, industri A berkembang secara merata (uniform) maka B juga untung, karena naiknya pendapatan A mendorong kenaikan impor dari B dan harga impor naik. Negara A akan mengalami defisit neraca perdagangan. Negara B akan mendapat perbaikan TOT, dan pendapatan nasional riil meningkat. Kasus ini disebut kasus pertumbuhan netral. Kasus pertumbuhan bias ke ekspor, bila kenaikan industri A hanya pada barang ekspor, turunnya harga ekspor A ke B menyebabkan pendapatan riil B naik juga. Bila ekspor A bersifat in-elastik (kaku), maka seluruh keunggulan A akan bergeser ke B. Kasus pertumbuhan bias ke impor, bila kenaikan hanya pada industri barang substitusi (pengganti) impor. Turunnya harga barang pengganti impor di negara A menyebabkan impor dari B turun, TOT B akan turun. Negara A memperoleh kenaikan TOT plus kenaikan produktivitasnya sendiri.
Immiserizing growth, mula-mula oleh Edgewoth, kemudian dikembangkan Johnson/Bhagwati : dapat terjadi, pertumbuhan menyebabkan negara lebih miskin, dalam kenyataan hal ini sangat kecil terjadi atau tidak Mungkin (karena dapat dihindarkan dengan kebijakan proteksi, kurs, suku bunga dll.).
Pengaruh pertumbuhan bagi Negara Kecil (price taker = tidak mampu mengubah harga pasar) :
a)      bila biaya per-unit tetap (klasik), berapapun jumlah output yang dihasilkan biaya per unit produk tidak berubah.  Efek pertumbuhan ekonominya mengakibatkan
Ø      sumbangan kepada sektor perdagangan internasional tetap (Average Propensity to Trade = tetap) kasus pertumbuhan netral, MPC = APC, E = 1
Ø      bila sumbangan meningkat di-sebut bias pro-trade, MPC > APC, E > 1
Ø      bila sumbangan menurun = bi-as anti-trade,  MPC < APC,    E  < 1
Ø      bila sumbangannya naik  diatas pertumbuhan itu sendiri = bias ultra pro-trade       MPC > 1, E > 1
Ø      sumbangannya turun dibawah nilai pertumbuhan = bias ultra anti-trade,                  MPC < 0, E < 1

MPC =          Δ Impor                              APC =    Total Impor
                                       Δ Pendapatan                                    Total Pendapatan
MPC dan APC disebut hasrat akan barang impor.
E = elastisitas pendapatan akan barang impor.
b)      bila biaya per-unit meningkat (Neo-Klasik dan Modern). Pertumbuhan ekonomi bergantung pada perilaku konsumsi & perilaku produksi. Efek pertumbuhan ekonominya mengakibatkan hal yang hampir sama.
Pengaruh pertumbuhan bagi Negara Besar, apabila negara besar mengalami pertumbuhan ekonomi, TOT pasti berubah. Bila biaya per-unit tetap (klasik), pada umumnya akan berakibat turunnya TOT, kecuali bila efek konsumsinya bias ultra anti-trade. Biaya per-unit meningkat, spesialisasi tidak akan terjadi secara sempurna, volume perdagangan naik, TOT menurun (kecuali bila efek konsumsinya bias ultra anti-trade). Jika pertumbuhan ekonomi negara A = bias ultra anti-trade = walaupun permintaan negara B pengimpor barang elastik, volume perdagangan akan  turun. Bila permintaan negara B pengimpor barang  inelastic, ekspor A meningkat.
Pada dasarnya sumber pertumbuhan ekonomi adalah pertumbuhan atau kenaikan sumber daya dan kemajuan teknologi yang memungkinkan kenaikan produksi walaupun sumber daya yang digunakan tidak berubah. Perbedaan akibat itu timbul terutama karena adanya asumsi adanya asumsi yang menyatakan bahwa, dalam persaingan sempurna, setiap tambahan faktor produksi akan menerima imbalan sebesar produk marjinal faktor produksi itu kali harga produk.
1. Akibat berubah sumber daya
Pertambahan salah satu saja dari faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi akan mengakibatkan terjadinya pertumbuhan ekonomi yang bersifat bias ultra ke produk yang relatif banyak menggunakan faktor produksi yang bertambah tsb. Akibat pertumbuhan kedua faktor produksi dalam proporsi yang sama dengan proporsi faktor produksi semula adalah bertambahnya output barang X dan barang Y dalam proporsi yang sama pula dengan proporsi output semula. Jadi, merupakan pertumbuhan ekonomi yang netral.
2. Akibat kemajuan teknologi, ada 2 :
v     kemajuan teknologi yang terlebur (embodied). Kemajuan yang terlebur dalam bentuk barang modal baru yang lebih efektif daripada yang lama (misalnya mesin yang lebih canggih, komputer baru, dsb). Yang terlebur dalam tenaga kerja yang lebih baik/produktif (misalkan lulusan baru selalu punya bekal lebih baik dari yang lama)
v     yang terpisah (disembodied). Klasifikasi Hicks dengan asumsi yaitu input faktor produksi jumlahnya konstan, ada 3 : (a)kemajuan teknologi yang netral = output meningkat dengan proporsi dan jumlah input tetap. Bila terhadap semua industri (X dan Y) maka ekspansi proporsional. TOT tetap, (b)yang menghemat tenaga kerja. Output meningkat dengan input yang sama dan tenaga kerja lebih kecil. Efeknya sama dengan Netral, (c)yang menghemat modal. Efeknya tidak dapat dijelaskan karena tidak jelas industri mana yang akan lebih dulu berkembang.
Beda pertumbuhan ekonomi karena sumber daya (SD) dengan teknologi :
a)      pada SD : output barang (X) meningkat, barang (Y) tetap akibatnya efeknya hanya menguntungkan pemilik sumber daya,
b)      pada teknologi : output (X) meningkat, output (Y) menurun – efeknya hanya menguntungkan penemu teknologi.
Bila negara mengekspor barang (X) yang harganya di dalam negeri turun, sedang di pasar internasional tidak berubah - maka TOT negara itu turun.
Ada 2 aliran :
1.      aliran Inggris (Klasik = Ricardo) : TOT selalu merugikan negara maju, alasannya : harga barang-barang pertanian akan naik terus terhadap barang industri sehingga negara industri rugi
2.      aliran Prebisch / Singer (1950) : TOT merugikan negara berkembang yang mementingkan ekspor hasil pertanian. Alasannya : ekspor rendah tetapi hasrat impor barang industri tinggi.

0 komentar:

Posting Komentar

Write here, about you and your blog.
 
Copyright 2009 Kaito 1412 All rights reserved.
Free Blogger Templates by DeluxeTemplates.net
Wordpress Theme by EZwpthemes
Blogger Templates